Bermain Puzzle
Hari ini belanja, sesuatu yang disukai ibu dan anak. Ibu mana yang gak suka belanja iya kan? Nah, kalau anak suka lihat proses belanja, apalagi ke supermarket, bisa naek troli. Sebenernya lagi gak semangat Dia. Ditawari makan ditolak mentah-mentah, nyicip aja gak mau, padahal makanan yang Dia doyan dan belum makan apa-apa juga. Masa iya gak lapar. Hmmm... gak bisa dipaksa kan ya. Baru masuk wafer sama kerupuk dikit. Yang penting ada yang masuk. Mungkin masih gak enak badan.
Mengobati kegalauannya dan memang lagi ada yang mau dibeli, ke supermarket Kita. Semangat langsung muncul saat tiba di toko. Mau jalan sendiri ke atas, biasanya takut-takut minta gendong. Dan bahagia Dia naik troli sambil mainan belanjaan.
Saat belanja kepikiran beliin mainan buat Dia. Entah kapan terakhir beli mainan, sampai gak inget, ingetnya cuma beli buat kado. Milih-milih apa yang cocok ya. Akhirnya beli mainannya bukan di tempat mainan tapi di tempat karpet. Hahaha... Beli puzzle lantai, satu puzzle terdiri dari beberapa puzzle kecil yang tengahnya ada huruf dan angkanya. Beli ini aja lah. Dia juga terlihat tertarik.
Pas main, baru inget beli puzzle tadi. Dibongkar deh. Dia masih bingung mainnya gimana. Dia berdirikan satu sama lain dijadiin segitiga. Ibu biarkan saja Dia eksplorasi sendiri. Dan Dia menemukan hal yang lebih asyik. Dipreteli. Semangat banget Dia copot-copot puzzlenya. Dia tarik sampai bunyi "kreeekk" kayak mau sobek puzzlenya. Setelah mereteli puzzle, Dia menemukan bahwa huruf dan angka di tengah bisa dicopot juga. Bongkar lagi sampai satuan yang tak bisa lagi dibongkar. Nah, selesai. Permainan yang Dia mainkan membongkar puzzle. Ibu tetap diam, biar saja Dia menemukan permainannya sendiri.
Setelah seharian dimainkan, dibawa kemana-mana, Dia kembali berkutat dengan puzzlenya. Kali ini Dia memasang kembali setiap puzzlenya sampai utuh. Dia cocokan huruf dengan puzzlenya. Dia sudah bisa mencocokan, huruf ini harus ditempatkan dimana, Dia sudah paham. Tapi, cara masangnya masih terburu-buru. Belum pas betul sudah ditekan-tekan, kadang malah terbalik. Kalau sudah gak bisa masuk, minta bantuan Ibu. Dan ibu menjelaskan kalau itu terbalik atau kurang pas. Memberitahu caranya dan minta Dia mempraktekan. Dan tak ikut campur dalam permainannya, biar Dia selesaikan sendiri.
Permainan ini permainan baru untuknya, meski mainan mencocokan bentuk sudah punya, tapi ini seperti Dia lebih mengerti alur memainkannya. Mungkin karena materialnya yang lentur membuat Dia mudah berinteraksi.
Hari ini belanja, sesuatu yang disukai ibu dan anak. Ibu mana yang gak suka belanja iya kan? Nah, kalau anak suka lihat proses belanja, apalagi ke supermarket, bisa naek troli. Sebenernya lagi gak semangat Dia. Ditawari makan ditolak mentah-mentah, nyicip aja gak mau, padahal makanan yang Dia doyan dan belum makan apa-apa juga. Masa iya gak lapar. Hmmm... gak bisa dipaksa kan ya. Baru masuk wafer sama kerupuk dikit. Yang penting ada yang masuk. Mungkin masih gak enak badan.
Mengobati kegalauannya dan memang lagi ada yang mau dibeli, ke supermarket Kita. Semangat langsung muncul saat tiba di toko. Mau jalan sendiri ke atas, biasanya takut-takut minta gendong. Dan bahagia Dia naik troli sambil mainan belanjaan.
Saat belanja kepikiran beliin mainan buat Dia. Entah kapan terakhir beli mainan, sampai gak inget, ingetnya cuma beli buat kado. Milih-milih apa yang cocok ya. Akhirnya beli mainannya bukan di tempat mainan tapi di tempat karpet. Hahaha... Beli puzzle lantai, satu puzzle terdiri dari beberapa puzzle kecil yang tengahnya ada huruf dan angkanya. Beli ini aja lah. Dia juga terlihat tertarik.
Pas main, baru inget beli puzzle tadi. Dibongkar deh. Dia masih bingung mainnya gimana. Dia berdirikan satu sama lain dijadiin segitiga. Ibu biarkan saja Dia eksplorasi sendiri. Dan Dia menemukan hal yang lebih asyik. Dipreteli. Semangat banget Dia copot-copot puzzlenya. Dia tarik sampai bunyi "kreeekk" kayak mau sobek puzzlenya. Setelah mereteli puzzle, Dia menemukan bahwa huruf dan angka di tengah bisa dicopot juga. Bongkar lagi sampai satuan yang tak bisa lagi dibongkar. Nah, selesai. Permainan yang Dia mainkan membongkar puzzle. Ibu tetap diam, biar saja Dia menemukan permainannya sendiri.
Setelah seharian dimainkan, dibawa kemana-mana, Dia kembali berkutat dengan puzzlenya. Kali ini Dia memasang kembali setiap puzzlenya sampai utuh. Dia cocokan huruf dengan puzzlenya. Dia sudah bisa mencocokan, huruf ini harus ditempatkan dimana, Dia sudah paham. Tapi, cara masangnya masih terburu-buru. Belum pas betul sudah ditekan-tekan, kadang malah terbalik. Kalau sudah gak bisa masuk, minta bantuan Ibu. Dan ibu menjelaskan kalau itu terbalik atau kurang pas. Memberitahu caranya dan minta Dia mempraktekan. Dan tak ikut campur dalam permainannya, biar Dia selesaikan sendiri.
Permainan ini permainan baru untuknya, meski mainan mencocokan bentuk sudah punya, tapi ini seperti Dia lebih mengerti alur memainkannya. Mungkin karena materialnya yang lentur membuat Dia mudah berinteraksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar