Kategori

Kamis, 25 April 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Tantangan kali ini mengingatkan saya saat kecil dulu. Ternyata tanpa disadari sudah berlatih cerdas finansial, meski informasi terbatas pada saat itu. Menurut saya, waktu kecil,  saya lebih cerdas finansial dari sekarang. Hehehe... Berarti memang mesti terus menerus belajar ya. 

Saat kecil saya dibelikan celengan, bahannya macem2 ada yang tanah liat, blek, sampai plastik yang bisa dibuka tutup (tentu ada kejahilan ngorekin celengan pakai lidi, hehe..). Yang saya ingat waktu kecil memang tak serta merta uang yang kita dapat langsung masuk ke 3 pos (berbagi, kebutuhan, tabungan). Tapi lebih ke membelanjakan dulu untuk kebutuhan, masih sisa buat berbagi (berbagi tak melulu dengan uang) dan nabung. Saya sejak SD (kelasnya lupa) diberi uang saku per minggu karena tragedi saya lupa bawa uang saku harian saya, padahal saya harus naik angkot pp (mulai naik angkot kelas 2 SD, berarti sekitar itulah). Saya lupa dulu dibayarin mbak naik angkotnya saat gak bawa uang atau sopirnya mengikhlaskan. Jadi, ibu antar uang saku saya ke sekolah dan saat itu guru saya menyarankan untuk per minggu saja uang sakunya. Mungkin dengan itu jadi gak lupa ambil lagi (memang gak lupa, tapi jadi habis di depan, pulangnya mesti jalan kaki 2 km demi bisa jajan). Kalau habis gak pernah berani minta lagi. 

Saya dipaksa untuk mengelola sendiri uang saku selama seminggu. Uang sakunya ngepres, jadi menyisihkan untuk kebutuhan pokok dulu yaitu ongkos naik angkot pp. Setelahnya, jajan (seminimal mungkin, gak berani beli walls, paling mewah beli lekker yang ada pisangnya seharga seribu). Kalau lagi pengen banget jajan, ya sudah sesekali rela hari sabtu pulangnya jalan kaki demi bisa minum es.

Kalau untuk berbagi masih konsep seikhlasnya, jadi gak matok berapa atau wajib sekian langsung disisihkan saat terima uang. Masih umum lah, saat jumatan mungkin atau pas apa. 

Kalau tabungan, kadang dalam seminggu bisa menyisihkan 5 ribu untuk ditabung (pas ngirit). Jadi, saat sudah di kelas besar saya tidak lagi memakai celengan tapi nabung di bank. Setiap jumat habis pulang sekolah biasanya saya nulis slip setoran di rumah (yang di jumat minggu lalu saya ambil), lalu ibu membungkus buku tabungan dan uangnya dengan plastik kresek hitam, kemudian bersepeda pergi ke bank. 

Jadi, sepertinya waktu kecil saya sudah belajar pengelolaan keuangan. Didukung dengan dulu jaman susah, sehingga memang benar-benar berhitung meski masih kecil dan rasa eman-eman selalu ada, mengalahkan keinginan, meski kadang jebol juga tapi jarang. Hal-hal ini yang bisa saya bagikan ke anak, ibunya dulu seperti apa mengelola uang. Akan lebih baik kalau dia lebih baik mengelola uang. Dan ini menjadi bahan untuk melatih cerdas finansial anak saya, tentu dengan penyesuaian saat ini. 

Pemahaman Uang

Anak saya berumur 2 tahun, belum mengerti konsep uang apalagi cerdas finansial. Oleh karena itu, pelatihannya dimulai dengan pengenalan dasar. Seperti pengenalan angka (yang selalu ada pada uang). Saat bermain puzzle angka,  saya sebutkan itu angka berapa, saya tempelkan juga angka 0-9 di pintu, supaya setiap hari dia melihat, dengan harapan belajar tanpa beban. 

Kemudian pemahaman bertransaksi sehari-hari. Uang sebagai alat bantu tukar-menukar/ alat pembayaran. Jadi,  setiap belanja selalu memberitahunya untuk membayar lebih dulu, sebelum barang dibawa pulang. Seperti tadi saat belanja, dia sudah ribut dan ibu bilang "kita bayar dulu" sambil menunjukan uangnya dan memgajak dia menyaksikan prosesnya. Ketika belanja bulanan, dia asyik memegang barang-barang, dan dia mulai paham untuk memberikan barang ke kasir untuk dibayar. Dia sering tak sabar untuk menikmati jajanannya, tapi ibu bilang "kita bayar dulu, baru dimakan", jadi tak merasa berutang kepada penjual, kecuali memang makan di situ yang sistemnya bayar nanti. Tak jarang tetap bayar dulu karena takut lupa. 

#Harike1
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
#KuliahBunsayIIP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar