Kategori

Kamis, 04 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Juru Masak

Hari ini mulai berkegiatan seperti sedia kala, meski masih lemes dan males. Ingin masak bahan makanan yang numpuk di kulkas, sayang. Bocil gak mau main sendiri. Ikut DiA ke dapur sambil bawa pesawat dan truk. Ibu siap-siap masak dan Dia sudah mulai tertarik acak-acak dapur. Ibu ngupas udang dan Dia mendekat. Ya sudah, ajak ikut serta aja daripada berantakin barang-barang. 

Ibu kupas kulit udang, Dia bagian bilas-bilas udangnya dalam wadah isi air. Dia berinisiatif menambahkan air ke wadah (Dia benar nambah air karena terlalu sedikit buat nyuci udangnya), tapi air pun beleber kemana-mana sampai membasahi bajunya (padahal sudah mandi). Dia belum bisa menakar yang pas dan mungkin juga karena airnya dalam botol besar, gak kuasa tangan mungilnya menahan. 

Setelah bersih, Dia aduk-aduk ke tepung. Dia jijikan orangnya, kalau lagi pertama mesti merasa jijik. Nah, ngaduk-ngaduk tepung sampai kena tangannya. Langsung Dia tunjukan ke Ibu tangannya yang kotor (minta dilapin). Ibu minta Dia cuci tangannya kalau kotor. Yah, keterusan deh, tiap kena tepung cuci tangan sampai bajunya basah lagi. Hadeeeehh. Lalu dimasukan ke tepung kering udangnya. Dia juga semangat banget menggoncangnya, berhamburan deh tepungnya. Tangannya putih-putih terkena serbuk tepung, cuci tangan lagi dong. Haha.

Lalu udang digoreng, kalau ini cuma ibu yang goreng. Dia pun tak mau ikut serta menggoreng, masih sibuk menguleni udang yang lain. Setelah beberapa saat, jadilah udang goreng tepung buatan Kami. Setelah selesai cuma dicicip aja. Sepertinya Dia lelah setelah bekerja keras dengan keadaan masih hangat badannya. Ngajak Ibu ke kamar, minta minum aja sambil tiduran.

Seneng bisa ajak Dia masak lagi. Sekarang sudah bisa mengikuti intruksi yang diberikan. Kalau dulu masih bermain bebas tanpa arah, jadi lebih sering dikasih sampahnya (seperti akar sayurnya). Jadi, ingat waktu bayi, Dia suka main umbi-umbian. Sampai dibawa pulkam itu umbi, naik pesawat. Hahaha. 

Satu hal yang penting untuk Saya ingat, Dia belajar tidak bisa dipaksa, Dia suka alamiah, tumbuh tanpa sadar. Seperti ketika pegang uang koin, tetiba Dia menghitung 1, 2, 3. Gara-gara keseringan menghitung sampai 3. Seperti buka baju 1, 2, 3. Buka sepatu 1, 2, 3. Tapi, ketika diminta mengulang apa yang Dia ucapkan, maka akan diam tak bersuara. Jadi, mesti sering-sering mengucapkan untuk tertanam pada dirinya dan tetiba Dia ucapkan kembali di waktu yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar