Kategori

Selasa, 30 April 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Trauma

Ibu kasih 3 uang koin dan dia sangat senang. Namun, mendadak tak tertarik saat diajak memasukannya ke celengan. Dia takut. Dia bahkan melempar koinnya, minta ibu aja yang memasukan. Mungkin dia trauma kejadian kemarin. Gak mau dekat-dekat botol itu.. Ibu dekatkan, dia menjauh. Gak mau betul dia. Lalu ibu masukan koin, terus ibu pegang-pegang celengannya. Dia mulai tertarik, dia lihat ibunya gak apa-apa memegang celengan. Akhirnya dia beranikan diri untuk pegang dan mau juga masukin koin. Masukin koin sambil ibu tanya celengan mana untuk berbagi, yang mana untuk tabungan, yang mana untuk kebutuhan. Kembali dia main dengan celengan. Dibunyi-bunyikan, dibawa kemana-mana, dibariskan.

Sambil tiduran ibu menjelaskan seperti apa sedekah itu, untuk apa. Yang dimaksud kebutuhan itu apa. Apa pula tabungan itu. Penjelasan awal yang singkat dan sederhana, entah bisa dipahami atau tidak, kisah pengantar tidur. Ibu berusaha memberikan pemahaman karena di umurnya yang sekarang dia belum tahu banyak hal. Termasuk memgatur finansial. Uang saja belum mengerti. Jadi, penting untuk memberikan pemahaman tentang keuangan. Meski seperti baca cerita sebelum tidur, lewat saja. 


#HariKe6
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#KelasBunsayIIP

Senin, 29 April 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Kecelakaan Kerja

Ibu sudah beli lem tembak. Eits... Ibu memaksakan keinginan menjadi kebutuhan pas beli lem. Gak kuat lihat yang lucu-lucu. Beli deh beberapa kertas kado dengan pikiran entar kalau mau mbungkus kado tinggal pakai, gak usah cari-cari lagi. Hehe.. 😁 Semua peralatan sudah siap. Bocah penasaran sama lem tembak, dicolek-colek, dipegang dan pas nyala ibu melarang dia untuk pegang-pegang, cukup lihat aja. 

Ibu yg ngehias ya, soalnya cukup berbahaya. Ibu sibuk ngelem, dia sibuk gunting-gunting. Sudah dilem badan celengannya, ternyata gak ada kepalanya. Ibu tanya tutupnya mana. Dia pergi ke ruang depan dan kembali membawa tutup botol. Hahaha... Iya ibu gak jelas bilangnya ya. Yang ibu maksud kepalanya, malah terucap tutup dan dia benar membawakan tutup botol. 

Waktu ibu beranjak akan mencari dan dia pun ingin ikut, terjadilah kecelakaan kerja. Kakinya nginjak lem yang menempel di lantai. Masih panas karena baru keluar dari tembakannya. Nangislah dia, nunjuk-nunjuk kakinya. Minta gendong. Ibu gak diolehin lihat kakinya. Haduh, ibu sangat ceroboh. Bersyukur kakinya tidak apa-apa, tidak melepuh, dan gampang bersihin lemnya. Pas video call sama ayahnya, dia pun mengadu kalau kakinya sakit. 

Setelah kejadian itu, dia cuma mau tiduran aja dan tak lama tertidur. 

Ibu selesaikan ngelemnya, agar besok tidak lagi pakai lem. 

Pengingat : Harus waspada saat bermain dengan anak. 

#HariKe5
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#KelasBunsayIIP

Minggu, 28 April 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Ngisi Celengan



Harinya cerah, mumpung sedang bepergian, kita sekalian beli retsliting untuk menghias celengan. Karena pekerjaan rumah numpuk, ngehiasnya malam saja. Tibalah malam dan kami hanya bisa ngisi celengan. Ngehiasnya kena delayed. 

Sebelum menghias, kita isi celengan. Pakai uang koin. Kenapa uang koin terus? Karena saya suka nyelengin pakai uang koin. Padahal lagi mengenalkan uang ya. Mungkin kebiasaan ini bisa membuat dia mikir kalau belanja pakai uang kertas, kalau nyelengin pakai uang koin. Hehe... Saya pikir gak masalah ya. Lebih awet uang koin juga kalau disimpan lama. Nah, setelah memperkenalkan uang koinnya,  langsung deh dimasukan ke celengan. Gak lupa ngasih tau dia untuk apa aja celengannya, meski gak diperhatiin. 

Selanjutnya, sudah mempersiapkan bahan untuk menghias celengan agar lebih berdaya guna. Udah foto-foto juga (dia ikut ngatur barang-barangnya), yah... Gak bisa ngehiasnya. Udah dipotong tinggal ngelem. Ternyata lemnya gak makan, gak lengket. Gak ada lem lain. Diputuskan untuk beli lem. Sempet mikir dijahit, tapi agak repot ya. Lihat di youtube, ternyata pakai lem tembak bisa. Nah, kalau di rumah banyak, tapi gak sempet bawa. Beli saja lah. 

Oya, ada cerita tentang menahan keinginan. Dia lagi bermain di teras dan menyapa tetangga sebelah yang baru datang. Lalu oleh tetangga sebelah, diajaklah dia le rumahnya. Diiming-imingi bakal dikasih jajan kalau mau bertamu. Siapa anak-anak yang gak suka jajan? Begitu pula, anak ini inginnya juga dikasih jajan, tapi memahannya, karena rumah itu asing. Gak bergeming meski pengen jajan. Mungkin nanti aku ceritakan padanya kalau dia juga pernah menahan keinginan. Tak semua keinginan dapat terwujud. 

#HariKe4
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#KelasBunsayIIP

Sabtu, 27 April 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Belanja

Hari ini belum bisa menghias celengan. Hujan seharian, sejenak reda. Kegiatan keuangan kali ini berbelanja. Ibu ada sedikit barang yang mesti dibeli, maksudnya cuma sebentar aja lalu pulang, tapi dia mau naik troli. Hadeeehh.. Ya sudah muter-muter sebentar. Pas di bagian mainan, ambil mainan dan ingin beli, didekap erat. Hmmmm.. Ibu jelasin deh kalau saat ini tak ada uang untuk beli mainan. Apa dia langsung nurut? Tentu tidak. Dijelasin terus sambil dialihkan perhatiannya. Lama-lama dia ikhlas mainan dikembalikan ke rak. 

Saat di kasir, tergoda lagi dengan jajanan anak-anak. Dia pegang-pegang dan melihat ke arah ibu. Pasti seneng banget kalau ibu ngangguk tapi sayangnya ibu geleng. Lagi, ibu bilang gak ada uang untuk membelinya saat ini. 

Sebisa mungkin dia, saya libatkan saat bertransaksi. Dia sudah buru-buru ingin menaruh barang ke kasir. Ibu bilang sabar karena masih antri. Saat sudah gilirannya, ibu bilang bisa ditaruh barangnya. Semangat dia mengeluarkan barang. Ibu juga memberitahu dia bahwa kita membayar barang belanjaan dengan uang. Kali ini dengan uang kertas. Nominalnya disebutkan termasuk warnanya. Beres, saatnya pulang. Tak lupa kembalikan troli ke tempatnya. Bahkan bocah juga mengembalikan troli yang tak dikembalikan ke tempatnya oleh pemakainya. Transaksinya termasuk tata cara belanja yang baik ya. 

#HariKe3
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
#KelasBunsayIIP

Jumat, 26 April 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansal

Celengan Pertama Atthar

  

Rencananya mau mengenalkan jenis-jenis uang ke anak, yang kertas dan koin. Setelah berpikir sejenak, sekalian aja lah membuat celengan. Ke gudang, cari-cari botol air mineral bekas (udah kayak lapak rongsokan, sengaja ngumpulin botol bekas dengan niat mau dibuat pin bowling, tapi gak sempet-sempet mau ngecat). 

Botol bekas dilubangi alakadarnya pakai pisau dan gunting, gak pakai ukuran yang penting bisa masuk koinnya. Makanya ada satu botol yang mesti dilebarin lubangnya karena koin gak bisa masuk. Setelah berlubang, belum diberi petunjuk, bocah udah ngerti untuk masukin koin ke botol. Hahaha... Semangatnya dia.  

Dimasukan satu-satu sambil dijelasin. Uang yang dimasukin uang koin, ada 3, 1 2 3, celengannya juga ada 3, 1 2 3. Masing-masing untuk berbagi, kebutuhan, dan tabungan. Setelah dimasukan semua, dia ingin mengeluarkan lagi. Hehe.. Lalu minta lagi untuk dimasukkan, besok lagi ya nak. 

Karena anak masih kecil jadi untuk memudahkan pemahamannya, maka besaran uangnya sama. Terlihat seperti mainan memang. Setelah masukin koin, dia girang, terus-menerus celengannya digerakan agar berbunyi,  makin nyaring makin seneng. Tapi, semoga yang ibu katakan dapat ia pahami. 

Besok rencana mau menghias celengan, sebenarnya polos gitu sudah bagus. Kelihatan dalamnya, jadi semangat untuk terus memenuhi celengannya. Pengennya celengan bisa dipakai seterusnya, gak sekali pakai aja. Mungkin bisa ditambah ritsleting. Jadi, meski dibongkar bisa dipakai lagi. 

#HariKe2
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
#KuliahbunsayIIP

Kamis, 25 April 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Tantangan kali ini mengingatkan saya saat kecil dulu. Ternyata tanpa disadari sudah berlatih cerdas finansial, meski informasi terbatas pada saat itu. Menurut saya, waktu kecil,  saya lebih cerdas finansial dari sekarang. Hehehe... Berarti memang mesti terus menerus belajar ya. 

Saat kecil saya dibelikan celengan, bahannya macem2 ada yang tanah liat, blek, sampai plastik yang bisa dibuka tutup (tentu ada kejahilan ngorekin celengan pakai lidi, hehe..). Yang saya ingat waktu kecil memang tak serta merta uang yang kita dapat langsung masuk ke 3 pos (berbagi, kebutuhan, tabungan). Tapi lebih ke membelanjakan dulu untuk kebutuhan, masih sisa buat berbagi (berbagi tak melulu dengan uang) dan nabung. Saya sejak SD (kelasnya lupa) diberi uang saku per minggu karena tragedi saya lupa bawa uang saku harian saya, padahal saya harus naik angkot pp (mulai naik angkot kelas 2 SD, berarti sekitar itulah). Saya lupa dulu dibayarin mbak naik angkotnya saat gak bawa uang atau sopirnya mengikhlaskan. Jadi, ibu antar uang saku saya ke sekolah dan saat itu guru saya menyarankan untuk per minggu saja uang sakunya. Mungkin dengan itu jadi gak lupa ambil lagi (memang gak lupa, tapi jadi habis di depan, pulangnya mesti jalan kaki 2 km demi bisa jajan). Kalau habis gak pernah berani minta lagi. 

Saya dipaksa untuk mengelola sendiri uang saku selama seminggu. Uang sakunya ngepres, jadi menyisihkan untuk kebutuhan pokok dulu yaitu ongkos naik angkot pp. Setelahnya, jajan (seminimal mungkin, gak berani beli walls, paling mewah beli lekker yang ada pisangnya seharga seribu). Kalau lagi pengen banget jajan, ya sudah sesekali rela hari sabtu pulangnya jalan kaki demi bisa minum es.

Kalau untuk berbagi masih konsep seikhlasnya, jadi gak matok berapa atau wajib sekian langsung disisihkan saat terima uang. Masih umum lah, saat jumatan mungkin atau pas apa. 

Kalau tabungan, kadang dalam seminggu bisa menyisihkan 5 ribu untuk ditabung (pas ngirit). Jadi, saat sudah di kelas besar saya tidak lagi memakai celengan tapi nabung di bank. Setiap jumat habis pulang sekolah biasanya saya nulis slip setoran di rumah (yang di jumat minggu lalu saya ambil), lalu ibu membungkus buku tabungan dan uangnya dengan plastik kresek hitam, kemudian bersepeda pergi ke bank. 

Jadi, sepertinya waktu kecil saya sudah belajar pengelolaan keuangan. Didukung dengan dulu jaman susah, sehingga memang benar-benar berhitung meski masih kecil dan rasa eman-eman selalu ada, mengalahkan keinginan, meski kadang jebol juga tapi jarang. Hal-hal ini yang bisa saya bagikan ke anak, ibunya dulu seperti apa mengelola uang. Akan lebih baik kalau dia lebih baik mengelola uang. Dan ini menjadi bahan untuk melatih cerdas finansial anak saya, tentu dengan penyesuaian saat ini. 

Pemahaman Uang

Anak saya berumur 2 tahun, belum mengerti konsep uang apalagi cerdas finansial. Oleh karena itu, pelatihannya dimulai dengan pengenalan dasar. Seperti pengenalan angka (yang selalu ada pada uang). Saat bermain puzzle angka,  saya sebutkan itu angka berapa, saya tempelkan juga angka 0-9 di pintu, supaya setiap hari dia melihat, dengan harapan belajar tanpa beban. 

Kemudian pemahaman bertransaksi sehari-hari. Uang sebagai alat bantu tukar-menukar/ alat pembayaran. Jadi,  setiap belanja selalu memberitahunya untuk membayar lebih dulu, sebelum barang dibawa pulang. Seperti tadi saat belanja, dia sudah ribut dan ibu bilang "kita bayar dulu" sambil menunjukan uangnya dan memgajak dia menyaksikan prosesnya. Ketika belanja bulanan, dia asyik memegang barang-barang, dan dia mulai paham untuk memberikan barang ke kasir untuk dibayar. Dia sering tak sabar untuk menikmati jajanannya, tapi ibu bilang "kita bayar dulu, baru dimakan", jadi tak merasa berutang kepada penjual, kecuali memang makan di situ yang sistemnya bayar nanti. Tak jarang tetap bayar dulu karena takut lupa. 

#Harike1
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
#KuliahBunsayIIP

Kamis, 18 April 2019

Aliran Rasa Level 7 "Semua Anak adalah Bintang"

Level kali ini mengajarkan kepada orang tua untuk lebih detil mengamati ketertarikan anak kepada sesuatu hal. Hal tersebut sangat penting dilakukan untuk mengulik minat bakat anak. Seawal mungkin diamati, maka akan mendapatkan jawaban akan bakatnya lebih cepat. Dan akan lebih mudah mengarahkan. Apalagi bila hasil pengamatan yang telah 10.000 jam terbang. Untuk mendapatkan hasilnya perlu pengamatan terus-menerus, seperti berlatih sehingga menjadi mahir. Karena akan sulit bagi pemula menentukan apakah yang sedang terjadi merupakan minat bakatnya atau sekedar ketertarikan sementara. 

Perlu juga untuk menstimulasi dengan berbagai macam kegiatan. Terutama untuk balita, yang bagi mereka semua adalah hal baru. Dan ketika dihadapkan dengan yang baru pastilah muncul ketertarikan. Sehingga masih membingungkan apakah ini adalah bakatnya. Jadi, untuk anak balita perbanyak pengalaman dan pembelajarannya. Berikan informasi sebanyak-banyaknya (tanpa paksaan), agar dia memiliki berbagai macam hal yang bisa dia pilih sebagai passion-nya. Mengingat balita masih memiliki banyak waktu untuk eksplorasi sekitar daripada anak yang sudah besar. 

Jadi, tantangan kali ini mengasah kemampuan orang tua untuk menerawang anaknya, sebenarnya hal apa yang membuatnya enjoy hingga akhirnya dapat menghasilkan karya dari hal tersebut. 

Sabtu, 13 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Mencoba Hal Baru

Sarapan kali ini hanya nasi dan telur ceplok ditaburi sedikit garam. Perut sudah lapar (dari malam) dan bocil sedang caper. Jadilah ala kadarnya, yang penting punya tenaga buat nyuci. Hehe... Dia udah ngintil sambil ngrengek lagi. Diam pas ibu minta dia tekan tombol start di rice cooker. Ok, kali ini belajar masak nasi aja. Dia langsung heboh, nunjuk-nunjuk ke lubang udara, memberitahu kalau ada uap panas disertai gelembung udara. Hmmm... Ibu bilang belum lagi ada gelembungnya, kan baru aja dimasak, masa udah ada uap panasnya. Hahaha... Dia suka pelajaran masak sepertinya. Gurunya mesti sabar banget ini. Ambil nafas, hembuskan, wwuuuuuuuss. Selain bantu masak, dia juga bantu nyapu. Penuh kehati-hatian dia mendorong kotoran, meski tetap kemana-mana.. Hehe... 

Hari ini, temannya main ke rumah. Bermain, rebutan mainan, dan teriak-teriak dia gak mau diambil mainannya dan temannya bersikeras minta dengan bilang pinjam. Ok tarik-tarikan. Kalah dong karena temannya lebih tua umurnya dan lebih kuat. Marah dia. Tetiba mengulurkan tangan. Dan salaman, berdamai mereka. Tak lama marah lagi dia, masih kesal, banting panci (dibuat mainan), ibu mengingatkan untuk tak melakukannya. Banting lagi, kali ini mobil-mobilannya dan akan membanting mainan yang lain. Gini ini yang bikin emosi. Ok time out saya berlakukan. Tak diijinkan main lagi karena mengulangi pelanggaran. Dan dia nangis-nangis protes. Saya pilih tega(s), gak ada toleransi. 

Entah kenapa seharian banyak time out. Seharian kesal terus dia dan ibu jadi ikut kesal. Baiklah sepertinya kita sama-sama sedang stres. Dibuat jalan-jalan jadinya. Lumayan mengusir penat. Jalan-jalan keliling kota sambil beli buah untuk stok seminggu, beli cemilan yang dicemil di taman kota sambil lihat robot. Beli bakso sambil lihat truk-truk mondar/i. Beli cangkul kecil juga buat bikin lubang pembuangan sampah sayur, bikin kompos, ngurangin sampah. 

Pas kegiatan ini, dia merhatiin banget. Serius jongkok sebelah ibu melihat setiap prosesnya, sambil tangannya belai-belai daun sebangsa palm. Dan ketika dia main di luar sendiri (ibu ngawasin di jendela kamar), dia nyoba-nyoba nyangkul. Sebenarnya berbahaya, tapi untungnya ganggang paculnya panjang, jadi mengurangi risiko. Suka dengan hal baru ini. Jadi nambah ide kegiatan buat dia yaitu berkebun. Ibu sih gak jago berkebun, lebih banyak yang mati daripada yang hidup, sering dibilang tangannya panas. Hahaha... Kalau uti sama tante jago banget berkebun. Rumah udah mirip tempat pembibitan. Mungkin bisa ini pulkam besok ngajak dia berkebun di rumah eyang.

Yang baru dia kenal juga sifat tarik-menarik magnet. Terkagum-kagum dia. Teriak "woooo...woooo.. ". Kalau magnetnya sendiri sudah tau lama dia. Magnet bisa lengket di besi, seperti magnet kulkas, sampai buluk dimaininnya, kulkas juga sampai penyok-penyok dipukul-pukul. Nah, tarik-menarik secara kebetulan dia rasakan sewaktu magnet yan nempel di blek roti memarik blek roti yang lain. Terus dia gerak-gerakan salah satu blek dan blek yang lain mengikuti. Heboh dong ya. Dia merasa luar biasa fenomena ini. Lalu dia tunjukan ke ibu, kali ini dilapis ke atas. Bawah blek magnet terus blek. Dia menunjukan kalau saat dia angkat blek yang atas, blek yang bawah ikut terangkat. Senang sekali ekspresinya. Salah satu eksperimen pribadinya. Jadi ingat kisah-kisah penemu yang menemukan berdasarkan kebetulan.

Jumat, 12 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Hari ini off dulu masaknya. Ingin menikmati pagi dengan santai alias malas-malasan. Maksud hati mau nemenin dia mainan, tapi ternyata temannya datang ngajak main bareng. Jadilah mereka main berdua dan ibu mengawasi aja, sesekali ikutan. Lebih banyak melihat saja, maksudnya biar mereka mengeluarkan jiwa anak-anaknya tanpa banyak interupsi orang dewasa yang kadang nganggap tindakan anak tidak sesuai keinginan atau mencampuri logika berpikir anak dengan terlalu ikut campur berkedok membantu. Hahaha... Kadang gemes ya, tangan gatel pengen bantu. 

Termasuk saat mereka berselisih. Kalau berselisihnya masih wajar seputar rebutan mainan, biasanya saya biarkan. Mencoba memberi ruang untuk emosi mereka berkembang secara alami. Melihat bagaimana mereka mencari solusi untuk masalah mereka. Kita pun mendapat bahan untuk evaluasi apa yang kurang dalam mendidik anak. Kalau sudah keterlaluan, maka perlu turun tangan seperti ketika dia tidak mau tapi oleh temannya dibopong (berhubung yang mbopong umur 3 th dan dikhawatirkan bisa jatuh), ditarik bajunya sampai pontang/i (saya rasa ini sudah bentuk kekerasan dan saya tidak suka).

Anak 2 tahun masih belum bisa diajak bermain dengan teman lain secara penuh. Kadang bisa kerjasama, tapi seringnya "merusak" permainan. Sebenernya mau ikut main tapi belum paham dengan aturan mainnya. Terkadang jadi main sendiri-sendiri dengan mainan yang dibagi oleh yang lebih tua umurnya. Tetep aja kadang merecoki bagian temannya. Hehe... Saat bermain sendiri dan memainkan puzzle di wadah, langsung nyambung masak-masakan. Mulai deh nguleni puzzle seperti bikin cumi goreng tepung. Masih ingat setelah seminggu berlalu. Membekas sekali sepertinya. Apa ini yang membuatnya berbinar? Entahlah, saya rasa dia masih kurang eksplorasi hal-hal baru, jadi belum bisa menyimpulkannya. Termasuk ketertarikannya dengan alat-alat transportasi yang menurut saya, anak-anak baik lelaki atau perempuan suka.

Malam ini, dia melihat bulan dan bintang. Dulu sering nongkrong di teras atau di jendela kamar lihat bulan dan bintang. Tapi akhir-akhir ini jarang lihat karena sering mendung. Jadi,  dia heboh, girang banget sambil nujuk-nunjuk bulan dan ngitung bintang. Hahaha... 

Kamis, 11 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Menduplikat perilaku

Rutinitas pagi hari itu nguprek dapur. Ok saya berhasil tidak tidur lagi setelah sholat, meski tergoda rebahan samping bocil. Akhir-akhir ini jadwal masak dibalik. Masak lauk, sayur, baru nasi. Kalau dulu, nasi, sayur lauk. Susunan baru kayaknya lebih pas untuk saya dan anak. Terbukti dengan waktu masak yang lebih singkat dari sebelumnya. Dan si bocil bisa nyemil-nyemil lauknya dulu, kalau dulu kan mesti nunggu semua mateng dulu. Gak mungkin bocil nyemil nasi. 

Selang beberapa saat terbangun dia dan langsung menuju dapur sambil merengek minta ibunya boboan aja bareng dia. Percayalah nak, tanpa kamu merengek juga ibu girang banget bisa boboan sama kamu. Hahaha... Tapi kita juga butuh sarapan agar emosi terkendali. Suka rese kalau lagi laper. 

Melihat ibu sedang menyiangi udang dan memasukannya dalam wadah berair, dia tertarik tu. Ikut deprok di lantai deh. Minta wadah lain untuk menampung udang yang sudah bersih. Hehe... Jalan logikanya. Mau tuang air juga saat terlihat udang makin banyak di wadah, sepertinya kurang airnya. 

Ibu kagum saat lihat dia membuka rice cooker. Ternyata dia ingat tata cara masak nasi. Padahal baru kemarin ibu ajari dia untuk memasak nasi. Dari beras dibersihkan dan masuk rice cooker, pencet,  masak deh. Dia menaruh gulungan kertas ke dalam wadah. Membuka rice cooker, memasukan wadah tadi terus tutup, dan pencet start. Sama persis dengan apa yang saya lakukan. Dan dia memperagakannya seolah bermain, alami, tak sadar sudah menduplikat.

Jadi, memasak masih mendominasi. 

Rabu, 10 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Belajar mandiri

Pagi ini dia masih setia menemani ibu masak. Seneng bisa diajak kerjasama. Setidaknya, gak terlalu rewel pas ibu masak. Jadi, beberapa hari ini waktu masak jadi lebih singkat. 

Kali ini sudah tak masak-masak lagi. Dia sedang suka main di halaman belakang. Nungguin kucing yang gak datang-datang. Pas datang seneng dia,  tapi terus pergi lagi cari makan kucingnya. Dan bocah protes, memberi tahu kalai kucingnya pergi ke arah sana. Ibu jelaskan ke dia kalau kucingnya lapar, di sini belum ada makanan,  makanya dia pergi ke tempat lain untuk cari makan. Dan naik turun pintu belakang dia, main sama kucing, meski sering kaburnya si kucing. 

Dia sudah bisa naik turun sendiri di pintu belakang. Cukup tinggi sebenarnya. Dia bisa gegara terkadang ibu cukup sibuk untuk menurunkan dan mengangkat dia. Dia belajar naik dan turun sendiri, lama-lama terbiasa. Dia juga suka pakai sandal sendiri. Kalau mau pergi langsung cari sandal dan memakainya. Terkadang saat bermain di rumah juga tetiba pakai sandal. Tapi lebih sering kebaliknya kalau tak didampingi pakai sandal. Kalau sudah terpasang di kakinya dan terbalik, mau dibetulkan gak mau dia. Bersikeras seperti ini yang pas menurut dia. 

Sudah bisa buka jaket juga. Dari narik ritsleting, melepasnya, sampai melepas bagian tangan yang kadang sampai gemas dan teriak-teriak sampai lepas jaketnya. Haaaa... Kalau sudah gini, ibu akan bilang sabar nak, pasti bisa melepasnya. 

Baju masih agak kesusahan melepasnya. Baru bisa diangkat-angkat ke atas untuk atasan dan didorong-dorong ke bawah celananya. Mesti dibiasakan nih. Setahap demi setahap. Ada kemajuan terus meski kadang sedikit yang penting anaknya bersemangat dan senang melakukannya. 

Selasa, 09 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Mengasihi Sesama Makhluk

Gak bosen-bosen ne anak masak. Masih sama seperti kemarin, kumpulin potongan puzzle yang kecil terus dimasukin di wadah, diublek-ublek deh. Ditawarin ke ibu kalau udah mateng. Tapi kali ini terusik dengan kehadiran kucing lain.

Awalnya, kucing putih cuma lewat di belakang rumah. Lihat ada sisa makanan yang memang sengaja buat makan kucing biasa (berasa peliharaan) sama ayam-ayam liar yang tinggal di pohon depan rumah, mampir makan. Bocil liat itu, pengen memberi makan, disodor-sodorin deh. Ibu jadi sering mengingatkan agar gak dekat-dekat, soalnya kucing itu pernah 2x nyakar bocil. Mungkin dia sudah lupa. 

Ketegangan terjadi ketika kucing yang biasanya datang. Merasa daerah kekuasaannya diokupasi, terjadilah perkelahian. Nah,  semakin parah karena dikompori bocil. Kucing abu sudah masuk ke rumah, tak mau berkelahi, sama bocil diangkut,  sengaja didekatkan dengan kucing putih,  terjadilah saling cakar. Ibu mesti kasih tau ne. Sudah membahayakan diri sendiri dan sekitar. Ibu bilang kalau kucingnya gak mau berkelahi, jadi kalau dia mendekatkan mereka, maka mereka bisa berkelahi,  nanti sakit, kamu juga nanti sakit karena ada di dekat situ. Kalau kena cakar lagi gimana,  sakit lok kalau kecakar (sambil meragain kucing nyakar). Dia juga melempar kucing putih dengan jagung karena galak. Ibu bilang kita harus sayang sama siapapun. Kalau lempar-lempar seperti itu bukan sayang. Kasian kucingnya sakit. 

Makin berani sama kucing dia. Kadang diangkatnya kucing. Apalagi kalau ada orang yang melihat,  seolah ingin menunjukan prestasi. Tadi pun dilapori kalau dia pegang anak kucing. Teman-temannya teriak histeris karena takut anak kucingnya mati. Mungkin karena kaget dengan respon teman-temannya, dia menangis. Hadeeeehh... Ibu mesti tak henti-hentinya mengingatkan. Dia mungkin belum paham dengan dampaknya. 

Tapi terkadang, dia sayang juga dengan kucingnya. Tadi pagi, kucing tiduran di lantai. Dia ambil kain dan menyelimuti kucing itu. Nah, kalau gini kan bagus. Jadi,  pe-ernya menumbuhkan jiwa welas asih. 

Senin, 08 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Koki

Sepertinya kegiatan masak masih terngiang-ngiang di pikirannya. Menemani ibu masak di dapur, tak lupa mengingatkan ibu pakai tepung. Ditawarkannya tepung pada ibu. Tapi hari ini ibu juga tak masak pakai tepung. Ikan gorengnya gak pakai tepung. Lalu dia keluar dari dapur,  sepertinya mengambil mainannya. 

Lama tak balik-balik. Datang-datang bawa puzzle yang ditaruh dalam wadah. Dan ada aroma bedak. Yak, dia praktekan ilmu masaknya pakai bedak dan minyak kayu putih. Tepung diganti bedak,  air diganti minyak kayu putih, akibat tak diizinkan ibu nguleni tepung. Hahaha... Dia menguleni puzzlenya, meratakan tepungnya sambil nungguin ibu potong sayur. Hadew,  anak ini. Sudah selesai diuleni, dipindah ke wadah lain. Semangatnya main masak-masakan. Sampai ibu bisa menyelesaikan semua masakan dengan lancar. Hehe... 

Hari ini ibu menyiapkan banyak makanan. Berharap dia mau makan. Ada nasi, ayam goreng, ikan goreng, tumis kangkung, jagung rebus, anggur, susu. Dan dia mau makan kalau ada temannya. Hmmm.. 

Periksa lagi ke dokter. Dan dia nangis-nangis waktu ditimbang,  distetoskop, dan disenteri mulutnya. Ternyata amandelnya bengkak, dia kena radang. Pantas gak mau makan, pasti sakit sekali buat nelan. Semoga cepat sembuh ya nak. 

Minggu, 07 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Pasaran

Bocah ketagihan masak sepertinya. Ibu goreng tahu buat lauk sarapan, Dia udah nyodorin toples tepung aja. Lhah... Ini kan tahu goreng bawang uyah nak,  gak pakai tepung. Dianya ngeyel, mau aduk-aduk. Dan berakhir ngambek. Digeletakin tepungnya, keluar dapur main yang lain. Huuuufffft. 

Masih gak mau makan. Dikasih tahu cuma satu Dia makan. Dikasih nasi dilepeh. Dikasih bening bayam, udah kabur duluan sebelum nyicip. Hadeeehh. Seharian berusaha mengembalikan nafsu makannya. Ke paman sayur, mau makan cincin meski sisa dikit,  yang penting masuk. Masih mau minum beras kencur. Beli pentol kuah, ngajak makan di warung, kirain mau makan, ternyata cuma mau berinteraksi sama teman. Dikiiiiiit banget pentol masuk mulut. Padahal biasanya suka makan pentol. Pesen jeruk peras juga yang biasanya Dia minum glek-glek-glek, ini cuma beberapa hisapan aja. Ditawarin ayam kentuky (favorit kalau lagi sakit), cuma 2 suap aja,  selebihnya dilepeh. Bangun tidur siang cuma mau makan wafer, itu juga cuma 2. Sorenya beli martabak manis, sapa tau maunya yang manis-manis, eh semangatnya di awal aja,  cuma habis 2 iris, untung habis susu segelas. Dan yang kenyang ibunya.

Dia masih aktif main. Ada teman-temannya main ke rumah juga semangat main bareng. Bisa main sendiri juga,  gak rewel. Dan masih main puzzle. Entah kemana-mana puzzlenya. Yang kecil-kecil Dia kumpulkan ke panci (ambil dari dapur). Terus Dia aduk-aduk. Habis itu dituang ke serokan (serokan udah rusak). Kalau diperhatikan Dia sedang mengulang cara memasak kemarin. Jadi berasa main pasaran Dia,  cuma gak kotor aja. Sebenarnya mau lebih nyata dengan dituang air segala, tapi ibu melarang karena air di botol itu buat minum bukan buat mainan. Dia juga bangga nunjukin cara masaknya ke ayahnya. Sudah dari serokan Dia taruh lagi ke wadah terus disodorkan ke Ibu buat dicicipi. Hahaha... Manisnya. 

Sabtu, 06 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Bermain Puzzle

Hari ini belanja,  sesuatu yang disukai ibu dan anak.  Ibu mana yang gak suka belanja iya kan? Nah,  kalau anak suka lihat proses belanja,  apalagi ke supermarket, bisa naek troli. Sebenernya lagi gak semangat Dia. Ditawari makan ditolak mentah-mentah,  nyicip aja gak mau,  padahal makanan yang Dia doyan dan belum makan apa-apa juga. Masa iya gak lapar. Hmmm... gak bisa dipaksa kan ya. Baru masuk wafer sama kerupuk dikit. Yang penting ada yang masuk. Mungkin masih gak enak badan. 

Mengobati kegalauannya dan memang lagi ada yang mau dibeli,  ke supermarket Kita. Semangat langsung muncul saat tiba di toko. Mau jalan sendiri ke atas,  biasanya takut-takut minta gendong. Dan bahagia Dia naik troli sambil mainan belanjaan. 

Saat belanja kepikiran beliin mainan buat Dia. Entah kapan terakhir beli mainan,  sampai gak inget, ingetnya cuma beli buat kado. Milih-milih apa yang cocok ya. Akhirnya beli mainannya bukan di tempat mainan tapi di tempat karpet. Hahaha... Beli puzzle lantai,  satu puzzle terdiri dari beberapa puzzle kecil yang tengahnya ada huruf dan angkanya. Beli ini aja lah. Dia juga terlihat tertarik. 

Pas main,  baru inget beli puzzle tadi. Dibongkar deh. Dia masih bingung mainnya gimana. Dia berdirikan satu sama lain dijadiin segitiga. Ibu biarkan saja Dia eksplorasi sendiri. Dan Dia menemukan hal yang lebih asyik. Dipreteli. Semangat banget Dia copot-copot puzzlenya.  Dia tarik sampai bunyi "kreeekk" kayak mau sobek puzzlenya. Setelah mereteli puzzle, Dia menemukan bahwa huruf dan angka di tengah bisa dicopot juga. Bongkar lagi sampai satuan yang tak bisa lagi dibongkar. Nah,  selesai. Permainan yang Dia mainkan membongkar puzzle. Ibu tetap diam,  biar saja Dia menemukan permainannya sendiri. 

Setelah seharian dimainkan,  dibawa kemana-mana,  Dia kembali berkutat dengan puzzlenya. Kali ini Dia memasang kembali setiap puzzlenya sampai utuh. Dia cocokan huruf dengan puzzlenya. Dia sudah bisa mencocokan, huruf ini harus ditempatkan dimana,  Dia sudah paham. Tapi, cara masangnya masih terburu-buru.  Belum pas betul sudah ditekan-tekan,  kadang malah terbalik. Kalau sudah gak bisa masuk, minta bantuan Ibu. Dan ibu menjelaskan kalau itu terbalik atau kurang pas. Memberitahu caranya dan minta Dia mempraktekan. Dan tak ikut campur dalam permainannya,  biar Dia selesaikan sendiri. 

Permainan ini permainan baru untuknya,  meski mainan mencocokan bentuk sudah punya, tapi ini seperti Dia lebih mengerti alur memainkannya. Mungkin karena materialnya yang lentur membuat Dia mudah berinteraksi. 

Jumat, 05 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Fun Cooking

Masih semangat masak anaknya.  Pas Ibu ijin mau masak dulu,  Dia ngangguk-ngangguk,  bangun dari tempat tidur dan ikut ke dapur.  Udah siap mau masak.  Hmmm.  Masak apa ya yang Dia bisa ikut serta ya? Jadilah bikin cumi goreng tepung.  

Saya minta Dia aduk tepung dengan air. Selagi Saya iris-iris sayuran untuk bikin nasi goreng.  Sayuran dan bakso sudah diiris semua,  lanjut iris cumi. Setelah saya iris, lalu dimasukan ke tepung yang dari tadi Dia aduk-aduk.  Makin semangat ngaduknya karena isinya makin banyak.  Terus menyiapkan tepung keringnya.  Dan tepung kering juga mau ikut diaduk. Hehe. Ibu minta diayak aja. 

Sekarang Dia sedang mengayak.  Ibu masukan cumi berlumuran tepung ke tepung kering. Setelah cukup banyak Ibu siap-siap menggoreng. Selagi menggoreng,  Dia disibukan dengan mengaduk lagi. Terkadang salah masuk. Cumi yang sudah masuk tepung kering dikembalikan ke tepung basah.  Haha. Juga tanpa aba-aba, tetiba Dia masukan cumi yang masih utuh ke dalam adonan. Hahaha. Repot deh Ibu mengembalikannya. Perasaan Ibu masih bagus, jadi gak masalah hal-hal lucu itu datang.  Hehehe... Dan terlanjur juga kepala cumi yang masih bertinta ikut masuk.  Jadilah,  hitam warna adonannya. Dia terheran-heran tangannya jadi hitam,  ditunjukannya sambil bilang "hiiiiiii...", lalu cuci tangan. Tangan sudah bersih lagi,  lanjut aduk-aduk. 

Dia protes ketika adonan terakhir digoreng.  Dia jadi tak bisa main lagi. Akhirnya Ibu ijinkan Dia cuci piring (main air). Sambil nunggu semua matang,  sambil cuci piring Kita.  Dan akhirnya matang sudah.  Dia juga dengan sendirinya berhenti cuci piring dan mau disuruh mandi. 

Ternyata masih cukup pagi dan pekerjaan sudah selesai. Senang rasanya pagi-pagi bisa santai,  semuanya sudah siap. Sepertinya perlu membiasakan Dia terlibat diacara pagi Kita,  agar Dia terbiasa dengan kesibukan di pagi hari.  Dia jadi terbiasa sibuk juga. Jadi, pagi-pagi bukan membuat Kita malas-malasan.  Seperti persiapan sekolah,  biar tak ada drama bangun dan bersiap di pagi Hari. 

Kamis, 04 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Juru Masak

Hari ini mulai berkegiatan seperti sedia kala, meski masih lemes dan males. Ingin masak bahan makanan yang numpuk di kulkas, sayang. Bocil gak mau main sendiri. Ikut DiA ke dapur sambil bawa pesawat dan truk. Ibu siap-siap masak dan Dia sudah mulai tertarik acak-acak dapur. Ibu ngupas udang dan Dia mendekat. Ya sudah, ajak ikut serta aja daripada berantakin barang-barang. 

Ibu kupas kulit udang, Dia bagian bilas-bilas udangnya dalam wadah isi air. Dia berinisiatif menambahkan air ke wadah (Dia benar nambah air karena terlalu sedikit buat nyuci udangnya), tapi air pun beleber kemana-mana sampai membasahi bajunya (padahal sudah mandi). Dia belum bisa menakar yang pas dan mungkin juga karena airnya dalam botol besar, gak kuasa tangan mungilnya menahan. 

Setelah bersih, Dia aduk-aduk ke tepung. Dia jijikan orangnya, kalau lagi pertama mesti merasa jijik. Nah, ngaduk-ngaduk tepung sampai kena tangannya. Langsung Dia tunjukan ke Ibu tangannya yang kotor (minta dilapin). Ibu minta Dia cuci tangannya kalau kotor. Yah, keterusan deh, tiap kena tepung cuci tangan sampai bajunya basah lagi. Hadeeeehh. Lalu dimasukan ke tepung kering udangnya. Dia juga semangat banget menggoncangnya, berhamburan deh tepungnya. Tangannya putih-putih terkena serbuk tepung, cuci tangan lagi dong. Haha.

Lalu udang digoreng, kalau ini cuma ibu yang goreng. Dia pun tak mau ikut serta menggoreng, masih sibuk menguleni udang yang lain. Setelah beberapa saat, jadilah udang goreng tepung buatan Kami. Setelah selesai cuma dicicip aja. Sepertinya Dia lelah setelah bekerja keras dengan keadaan masih hangat badannya. Ngajak Ibu ke kamar, minta minum aja sambil tiduran.

Seneng bisa ajak Dia masak lagi. Sekarang sudah bisa mengikuti intruksi yang diberikan. Kalau dulu masih bermain bebas tanpa arah, jadi lebih sering dikasih sampahnya (seperti akar sayurnya). Jadi, ingat waktu bayi, Dia suka main umbi-umbian. Sampai dibawa pulkam itu umbi, naik pesawat. Hahaha. 

Satu hal yang penting untuk Saya ingat, Dia belajar tidak bisa dipaksa, Dia suka alamiah, tumbuh tanpa sadar. Seperti ketika pegang uang koin, tetiba Dia menghitung 1, 2, 3. Gara-gara keseringan menghitung sampai 3. Seperti buka baju 1, 2, 3. Buka sepatu 1, 2, 3. Tapi, ketika diminta mengulang apa yang Dia ucapkan, maka akan diam tak bersuara. Jadi, mesti sering-sering mengucapkan untuk tertanam pada dirinya dan tetiba Dia ucapkan kembali di waktu yang tepat.

Rabu, 03 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Pembaca

Masih tepar berdua. Dan Ibu masih terbatas menemani Dia bermain. Sayang banget padahal hari libur gini. Sedih, saat lihat Dia ajak main dan Ibu minta Dia main di kasur aja biar Ibu bisa ikut juga. Tapi, Dia dengan muka kecewa melipir ke luar kamar, main sendiri di tempat mainnya. Memberikan Ibu waktu buat istirahat. Huuuuaaaaa. Maafkan Ibu nak, kepala migrain gini susah bangunnya. Dia pun masih hangat badannya, tapi mungkin seketika hilang kalau dibuat main.

Hari ini Dia sering buka-buka buku. Dibawanya buku-buku lift the flap ke kamar agar Ibu bisa lihat. Tak lupa beserta semua alat peraganya (mainan yang sama seperti di buku). Dia sudah bisa memainkan buku tipe lift the flap, buka tutupnya sudah benar. Kalau dulu, bukan dibuka tutup tapi dibuka sobek. Hahaha...belum ngerti. Sayang, tapi ya sudah, sudah terjadi ini. Ini salah satu tipe buku yang Dia gemari sekarang. Tiap membukanya akan bilang "wuuuaaaa". Dulu suka yang diputar-putar, ditarik. Mungkin menyesuaikan umurnya. Sekarang lebih suka seperti tebak-tebakan. Dan memang Dia memainkan bukunya dengan tebak-tebakan. Dia tunjuk, Ibunya yang suruh tebak, gitu terus sampai Dia berhenti. Kalau dibalik, cuma beberapa benda saja, selebihnya balik lagi Ibu yang nebak.

Saking seringnya buka buku itu, sampai hapal dimana letak sesuatu yang Ibu sebutkan. Misal, Ibu tanya "dimana sapi?" Dia bisa langsung membuka gerbong kereta dan taraaa ada sapi di dalamnya. Ibu tanya "dimana pesawat?" Dia akan buka lambung kapal dan dapat pesawatnya. "Dimana pesawat Atthar?" Dia akan sibuk cari alat peraganya dan diambilnya mainan pesawatnya, tak lupa diterbangkannya "wuuuuuu". Kalau ada truk di buku itu, Dia akan menunjukan mainan truknya, begitu seterusnya dengan mobil, mobil pemadam kebakaran, dll. Jadi, kegiatan hari ini lebih banyak bedah 4 buku lift the flap.

Selasa, 02 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Empati

Sama-sama sedang sakit, jadi lebih sering baringan di tempat tidur. Kurang fokus dalam mengerjakan tantangan. Hebatnya, Dia lebih bersemangat daripada Saya ketika sakit. Saya masih tiduran, Dia sudah bermain meski sendirian. Kasian lihatnya. Ketika lemah gini, Dia seperti bisa mengerti untuk bermain sendiri dan memberi waktu untuk Ibu istirahat lebih lama. Tidak protes, tidak memaksa ditemani main seperti biasanya. Mungkin terpaksa sekali membangunkan Ibu ketika poop. Saat poop, Dia mendekat dan minta Saya ikut ke belakang. Pas Saya tanya "poop kah?" Dia mengangguk sambil pegang pantatnya. Ah, sudah besar Dia.

Badannya panas, tapi masih semangat bermain. Seperti biasa main mobil-mobilan, kali ini ambil mobil sedan dan pemadam kebakaran (bukan mainannya, mainan punya Abang Arsad). Dia jalankan dan meminta Ibu menirukan suara mobil-mobil itu. Ditambah pesawat. Hmmmm...bunyinya gimana ya?haa..mikir dulu.

Yang lucu ketika nenen, Ibu menawarkan minum paracetamol untuk menurunkan panasnya, tapi Dia menggeleng terus. Hey, Dia sudah tahu arti mengangguk dan menggeleng. Tidak mau sampai Ayahnya videocall, minta Dia minum obat dan nurut. Yah, anak ayah ini mah. Hehe... Lanjut main sepeda roda 3 nya dan beberapa saat kemudian tidur.

Saya menyadari secara alami banyak kemajuan padanya. Meski termasuk lambat bicara, sekarang Dia sudah bisa nyapa "Kai" dengan agak jelas ketika Kai lewat bahkan ketika mendengar suara motornya. Memanggil "Uwa" ketika truk Bapak Uwa lewat. "Dadah cing" dadah ke kucing saat Kami pergi. Semua perlu pembiasaan. Biasa Dia mendengar sapaan-sapaan itu, lama-lama terucap dari mulutnya seperti itu. Namun, dengan sukarela, kalau Kita sengaja memancing dengan minta Dia menirukan atau bertanya balik, hampir tak diresponnya, meski kadang mau. Mesti spontan, mesti pas situasinya.

Senin, 01 April 2019

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Peniru Ulung

Semua orang tua menginginkan anaknya jadi lebih baik dari dirinya, baik nasib maupun pribadinya. Kalau di dunia parenting (hasil baca-baca) dikatakan kalau ingin anak baik, perbaiki dulu orang tuanya. Nah, harapan mudah digantungkan, tapi untuk mewujudkannya sulit banget. Itu yang Saya rasakan. Ingin anak baik perilakunya (yang akan merembet ke nasibnya), Saya harus mengejar kesempurnaan (meski gak mungkin sempurna, setidaknya mendekati). Berat Saya rasa karena perilaku ini yang jaaaaauuuuuuuhh dari kata baik. 

Terlihat dari kesan pertama orang lain pada Saya, gak jauh-jauh dari kata Jutek, Judes, Pendiam, Susah Bergaul, Galak, Gak Ramah, Suka Marah (hahaha kalau ini jujur Saya bingung, soalnya biasa aja ngomong tapi tersampaikannya Saya lagi marah, diem aja dibilang marah. Hadeeerhhh, maafkan ekspresi Saya yang kayak gini) dll. Haduh banyak banget ya. Kebanyakan dilihat dari muka Saya yang kalau kata teman NOE (no expression alias datar cenderung negatif). Jadi, pas nikahan gigi Saya kering dan muka kaku gara-gara disuruh fotografernya mesti senyum kelihatan gigi agar fotonya bagus. Huuuaaaaaa. Saya akui memang Saya orangnya susah bergaul. Jadi kalau belum kenal pasti cuma diem aja, kalau udah kenal dibilang cerewet (serba salah, haha).

Dari banyaknya hal negatif pada diri Saya, Saya ingin anak Saya tidak memiliki kesemuanya itu. Beruntung Dia suka senyum, ketawa (lalu dibilang, Ibumu gak bisa senyum, bisa punya anak yang suka senyum ya, walah..apa-apaan ini komennya..hehehe..). Yang paling penting adalah imannya. Ini berat sekali karena Saya juga masih belajar masalah agama. Sedikit curhat, rasa otodidak belajar agama. Belajar sholat dengan pegang buku sambil sholat, belajar baca Al Quran pas pelajaran agama yang cuma sebentar, pernah juga sebentar belajar di TPA. Padahal menurut Saya belajar agama itu mesti ada gurunya ya. 

Kembali ke anak, Saya ingin Dia mengenal agamanya sedini mungkin. Sesuai dengan apa yang Saya harapkan. Saya belikan berbagai macam wahana belajar agama. Namun, kembali lagi yang paling penting orang tuanya. Sesekali Saya ajak Dia mengunjungi masjid saat waktu sholat karena ingin Dia kedepannya sholat berjamaah terus di masjid. 

Nah, yang lagi seneng Dia lakukan itu menirukan orang sholat. Seneng lihatnya, meski baru Takbir dan Sujud. Sujudnya pun kaki belum bisa ditekuk, meski kepala sudah nyentuh lantai, ngeri juga posisinya ya. Kadang kalau pas main tetiba Dia sujud, Saya benarkan posisinya. Kalau Saya wudhu, Dia juga minta kakinya disiram. Saya hamparkan sajadah, Dia langsung sholat. Kemarin-kemarin, baru satu kali sujud, sekarang sudah 3 kali sujud. Saya pikir-pikir, memang benar anak niru orang tua. Kalau mau Dia rajin sholat, Saya juga mesti rajin sholat. Kalau sudah adzan, Saya mesti langsung sholat supaya Dia terbiasa mendengar adzan langsung sholat. Dan Saya suka Dia melakukannya dengan senang tanpa paksaan karena umur 2 tahun belum wajib sholat tapi perlu dikenalkan.

Semoga menjadi anak yang sholeh. Aamiin.