Kategori

Kamis, 02 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Cerita

Seperti saat pertama menjalankan tantangan kali ini, prolognya mengenang pengaplikasian strategi keuangan masa kecil ibu. Jadi, hari ini selain nyelengi seperti biasa, juga bercerita tentang masa kanak-kanak ibu. Ini sebenarnya nyontek dari ibu saya. Dulu sering sekali cerita tentang masa kecil beliau dan sampai sekarang saya masih mengingatnya. Bercerita tentang bagaimana hari-harinya yang membuat saya selalu bersyukur dengan keadaan saya. 

Beliau sekolah naik turun gunung bertelanjang kaki berbekal gula jawa, minum air sungai. Kalau lagi beruntung petani yang kebunnya mereka lewati memberikan sebagian bekalnya. Maka, saya mesti bersyukur sekolah dengan berbagai kenyamanan. Saya rasa anak saya juga mungkin akan seperti itu. Mengingat masa lalu untuk mensyukuri masa kini dan membuat perubahan di masa depan. Saya rasa menanamkan pemahaman sesederhana bercerita juga sama pentingnya dengan mempraktekannya. 

Saya bercerita tentang cara saya mengelola keuangan saat kecil. Saya bilang kalau setelah puasa ada hari raya yang biasanya anak-anak akan mendapatkan uang dari orang-orang. Sama seperti anak lain, senang pasti. Tapi tak lantas langsung menghamburkan uang yang didapat begitu saja. Apalagi untuk beli kembang api dan mercon. Eyang selalu bilang itu sama halnya membakar uang, tak ada manfaatnya. Maka, biasanya ibu akan jajan apa yang paling diinginkan, seringnya es krim karena termasuk barang mewah. Kemudian, uang sisanya ditabung. Saat masuk sekolah lagi uang itu digunakan untuk membayar uang sekolah dan buku, tanpa paksaan orang tua, ingin membantu orang tua. 

Saya pun bilang ke anak, kita boleh punya keinginan tapi tak bisa semua keinginan kita terpenuhi. Pilihlah yang paling penting, yang paling dibutuhkan. 

Saya kaitkan dengan beli mainan. Dia selalu ingin beli mainan. Tapi, suka sembarangan memperlakukan mainannya. Dibanting, dibongkar, dicopotin. Sebisa mungkin tak marah, sebisa mungkin memberikan pengertian. Mesti bersyukur kalau dia bisa dibelikan, diberikan, dipinjami mainan. Karena tak semua orang bisa merasakan kemewahan itu. Ada anak yang tak mampu mewujudkan keinginannya memiliki mainan. Maka, kalau kita punya mainan baiknya dijaga, agar bisa dimainkan berulang. Bisa main dengan teman atau bahkan nanti kalau punya adik, bisa dimainkan bersama adik kalau mainannya awet, gak rusak. Baik-baik lah sama mainannya, taruh mainannya pelan-pelan, tak perlu dibanting atau dilempar. 

Cukup panjang saya bercerita, random, dan susah dicerna anak-anak, tapi saya sudah berusaha. Semoga dia memahami. Meski sambil kiyip-kiyip matanya seperti mendengarkan dongeng yang membosankan. 

#HariKe8
#Tantangan10Hari
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar