Marah
Mendidik anak cerdas finansial berarti diawali dengan mendidik hal-hal pokok seperti rasa syukur. Ketika anak mengerti kata bersyukur dalam kenikmatan yang Allah berikan, maka dia bisa lebih mudah dididik untuk cerdas finansial. Melatih rasa syukur ini kadang menguras hati. Anak belum mengerti yang dimaksud dengan syukur. Jadi, masih sekehendak hatinya.
Dia mulai lagi memainkan makanan. Saya paling tak suka kalau anak mainan makanan. Langsung bad mood seketika. Mungkin karena saya pernah merasakan susahnya makan enak waktu kecil, maka terbawa ketika melihat anak mainan makanan.
Bermula dari maketin oleh-oleh. Saya teringat dia suka juga makan amplang, maka saya beli satuan untuknya. Dan melihat amplang, dia langsung minta dibukakan. Dia makan dan setelah beberapa saat, entah kenapa dia lempar sebungkus amplang sampai berceceran kemana-mana. Otomatis kesal melihatnya. Mulai deh ibu ngomel.
Sesaat kemudian saya ajak bicara dia. Dia tak mau melihat saya kalau diajak bicara serius. Saya tekankan kalau dia tak boleh bermain dengan makanan. Itu tidak bersyukur. Karena di luar sana masih banyak yang kesusahan untuk sekadar mengisi perut dengan sesuap nasi. Mestinya kita bersyukur bisa menikmati cemilan.
Saya bilang kalau dia tak mau makan tak apa, tapi bukan dengan melempar makanan seperti itu. Taruh baik-baik. Saya tanya apa dia mengerti dan dia mengangguk, meski mungkin nanti terulang lagi dan saya mesti menjelaskan lagi dan lagi sampai dia paham arti syukur. Semoga dia lekas paham.
#HariKe16
#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
Mendidik anak cerdas finansial berarti diawali dengan mendidik hal-hal pokok seperti rasa syukur. Ketika anak mengerti kata bersyukur dalam kenikmatan yang Allah berikan, maka dia bisa lebih mudah dididik untuk cerdas finansial. Melatih rasa syukur ini kadang menguras hati. Anak belum mengerti yang dimaksud dengan syukur. Jadi, masih sekehendak hatinya.
Dia mulai lagi memainkan makanan. Saya paling tak suka kalau anak mainan makanan. Langsung bad mood seketika. Mungkin karena saya pernah merasakan susahnya makan enak waktu kecil, maka terbawa ketika melihat anak mainan makanan.
Bermula dari maketin oleh-oleh. Saya teringat dia suka juga makan amplang, maka saya beli satuan untuknya. Dan melihat amplang, dia langsung minta dibukakan. Dia makan dan setelah beberapa saat, entah kenapa dia lempar sebungkus amplang sampai berceceran kemana-mana. Otomatis kesal melihatnya. Mulai deh ibu ngomel.
Sesaat kemudian saya ajak bicara dia. Dia tak mau melihat saya kalau diajak bicara serius. Saya tekankan kalau dia tak boleh bermain dengan makanan. Itu tidak bersyukur. Karena di luar sana masih banyak yang kesusahan untuk sekadar mengisi perut dengan sesuap nasi. Mestinya kita bersyukur bisa menikmati cemilan.
Saya bilang kalau dia tak mau makan tak apa, tapi bukan dengan melempar makanan seperti itu. Taruh baik-baik. Saya tanya apa dia mengerti dan dia mengangguk, meski mungkin nanti terulang lagi dan saya mesti menjelaskan lagi dan lagi sampai dia paham arti syukur. Semoga dia lekas paham.
#HariKe16
#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
Tidak ada komentar:
Posting Komentar