Kategori

Kamis, 16 Mei 2019

Aliran Rasa Mendidik Anak Cerdas Finansial






Tantangan mendidik anak cerdas finansial bisa dijalani dengan 2 tipe sesuai dengan umurnya dan bergradasi. Untuk anak kecil dalam tantangan ini yang perlu ditekankan adalah pemahaman yang berkaitan dengan finansial. Sedangkan untuk anak yang sudah bersekolah bisa menerapkan pengelolaan finansial secara mandiri. Namun, keduanya dapat menerapkan konsep 3 celengan, yaitu untuk berbagi, kebutuhan, dan simpanan. 

Anak saya berusia 2 tahun, sehingga dalam tantangan kali ini lebih banyak menekankan pemahaman yang berkaitan dengan finansial. Seperti, konsep rejeki, apa itu uang, jenisnya, mengenalkan angka, jual beli yang baik, menahan keinginan, sedekah tak melulu dengan uang (menyiram tanaman), mengurangi pengeluaran (mengubur sampah dapur untuk menyuburkan tanah), dll. Saya sering melakukannya dengan bercerita. Bagaimana dulu saat masih kecil mengelola uang yang didapat. Bersyukur saat kecil sudah belajar mengelola uang sendiri. Sehingga, saya dapat memberikan contoh secara nyata kepada anak. 

Meski anak masih kecil, tapi orang tua mesti yakin kalau dia mengerti. 

#aliranrasa #gamelevel8 #kuliahbunsayiip #institutibuprofesional

Sabtu, 11 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Holiday

Hari libur pertama di bulan Ramadha, enaknya ngruntel di kasur. Hehe... Tapi, agar perut gak sebah setelah sahur, diputuskan ibu mesti nyuci. Jadilah, cucian ibu dan bocah sudah beres sebelum siang. Nyuci diselingi beberes rumah yang sudah mirip gudang. Berhamburan kemana-mana mainannya. Dia masih terlelap setelah area bermainnya rapi. Tapi, cuma tunggu hitungan saat saja semua kembali berantakan dan ibu mulai malas beberes lagi. Haaa.. Besok saja lah diberesin lagi. Sudah lemah tenaga, butuh istirahat. Ketika akan istirahat, dia tak mau ikut istirahat. Yah.. Nasib, baiklah bermain bersama saja. 

Kita juga berkarya di hari libur ini. Kita membuat amplop untuk hari raya. Ibu beli kertas kado motif kain sasirangan. Inginnya ada kesan khas banjar. Ibu bagian potong-potong dan dia bagian ngelem. Semangat banget mau kasih lem dimana-mana. Gak sabar nunggu ibu sedang lipat-lipat dan gunting-gunting. 

Biasanya amplop sudah beli jauh-jauh hari, sebenernya karena suka yang lucu-lucu, maka kalau ke toko atk suka beli amplop yang motifnya lucu untuk lebaran. Jadi, sudah siap sedia. Untuk tahun ini memang dari awal sudah punya rencana membuat sendiri. Buah pemikiran dari tahun yang telah lalu saat di rumah, iseng bikin amplop dari kertas kado bekas, sayang kalau langsung dibuang, bisa dimanfaatkan lagi. Ternyata juga hemat. Dari 1 lembar kertas kado harga seribu bisa untuk membuat sekitar 12 buah amplop. Apalagi kalau pakai yang bekas. Bukan gak menghargai yang dikasih ya, tapi memanfaatkan yang ada dan meningkatkan manfaatnya. 

Untuk uangnya juga jauh-jauh hari nyiapinnya. Masih belum teratur untuk menyisihkannya, seperti sebulan mesti berapa ribu.  Jadi, sistemnya setiap dapat uang baru gress langsung simpan dan itu sudah berlangsung dari lama sekali. Dari simpanan yang bertahun-tahun itu terkadang masih ada sisanya dan bisa dipakai di tahun yang akan datang, seperti itu seterusnya. Menurut saya jadi lebih ringan untuk penganggarannya. Saya memang bukan orang yang saklek, suka agak bebas dikit. 

Saya tipe orang yang gak bisa pegang uang soalnya. Memang jarang sekali beli baju atau pernak/i cewek lainnya tapi uang yang ada bisa langsung ludes gegara hobi belanja buku dan jajan. Kalau orang-orang tak suka ambil uang dari rekeningnya biar gak cepat habis, kalau saya kebalikannya. Sering saya ambil semua yang ada di rekening untuk dimasukan ke masing-masing amplop kebutuhan agar kebutuhan tak kalah dengan keinginan. Kalau di rekening masih ada uang bakal kalap untuk transfer-transfer olshop. Mungkin masih belum terorganisasi dengan baik pengelolaan keuangannya, tapi saya masih nyaman dengan sistem yang tak teratur ini. Saya juga mudah stres. Kalau mesti teratur dengan ketat, bisa memicu peningkatan kestresan. Seperti kata suami, lakukan saja sesuai dengan cara yang kamu sukai (dalam artian positif). Tau kalau istrinya moody, gampang stres. 

#HariKe17
#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Marah

Mendidik anak cerdas finansial berarti diawali dengan mendidik hal-hal pokok seperti rasa syukur. Ketika anak mengerti kata bersyukur dalam kenikmatan yang Allah berikan, maka dia bisa lebih mudah dididik untuk cerdas finansial. Melatih rasa syukur ini kadang menguras hati. Anak belum mengerti yang dimaksud dengan syukur. Jadi, masih sekehendak hatinya. 

Dia mulai lagi memainkan makanan. Saya paling tak suka kalau anak mainan makanan. Langsung bad mood seketika. Mungkin karena saya pernah merasakan susahnya makan enak waktu kecil, maka terbawa ketika melihat anak mainan makanan. 

Bermula dari maketin oleh-oleh. Saya teringat dia suka juga makan amplang, maka saya beli satuan untuknya. Dan melihat amplang, dia langsung minta dibukakan. Dia makan dan setelah beberapa saat, entah kenapa dia lempar sebungkus amplang sampai berceceran kemana-mana. Otomatis kesal melihatnya. Mulai deh ibu ngomel. 

Sesaat kemudian saya ajak bicara dia. Dia tak mau melihat saya kalau diajak bicara serius. Saya tekankan kalau dia tak boleh bermain dengan makanan. Itu tidak bersyukur. Karena di luar sana masih banyak yang kesusahan untuk sekadar mengisi perut dengan sesuap nasi. Mestinya kita bersyukur bisa menikmati cemilan. 

Saya bilang kalau dia tak mau makan tak apa, tapi bukan dengan melempar makanan seperti itu. Taruh baik-baik. Saya tanya apa dia mengerti dan dia mengangguk, meski mungkin nanti terulang lagi dan saya mesti menjelaskan lagi dan lagi sampai dia paham arti syukur. Semoga dia lekas paham. 

#HariKe16
#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Kamis, 09 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Kebutuhan vs Keinginan

Sore ini, ajak bocah cari lauk berbuka. Tadi pagi gak sempet masak lauk lebih. Kesorean jadu pada sudah habisan. Mau beli sate aja udah pada habis. Ibu tetep tergoda tahu isi, tapi belun nemu yang pas rasanya. Bocah cuma lihat aja dan tak berusaha minta dibeliin. Paling pas mau dicantolin motor, dia minta nyobain. Kasih tahu isi satu, tapi cuma dikit makannya, terus minun susu kedelai, terus makan setusuk sate, lalu tertarik sama martabak manis. Karena masih panas dan gak mau jauh-jauh dari martabak, ibu minta dia jagain martabaknya biar gak jatuh. Aman deh sampai rumah, langsung santap. 

Sebagai pengantar tidur, ibu bilang kalau kebutuhan itu hal pokok yang mesti kita punya seperti makanan, baju, rumah. Selain itu keinginan. Meski kebanyakan orang (termasuk saya) sering membenarkan keinginan menjadi kebutuhan. Ibu bilang kalau kebutuhan itu makan makanan pokok seperti gizi seimbang yaitu makan nasi dengan lauk dan sayur dilengkapi dengan buah. Kalau kita jajan berarti sebenarnya itu hanya keinginan. Maka, banyak-banyak bersyukur sudah diberi nikmat untuk bisa jajan sedang banyak anak lain gak bisa makan. Dan tak semua keinginan dapat segera terwujud, maka bersabar. Seperti ketika ingin makan tapi masih panas, maka tunggulah sejenak. 

#HariKe15
#TantanganKelasBunsayIIP
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Rabu, 08 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Cerita

Masih dengan celengan dan terpikir untuk terus menanamkan nilai sedekah. Karena menurut saya ini yang terberat. Memberi saat lapang saja berat, apalagi saat sempit. Saya ingin dia terbiasa bersedekah. Sedekah itu memberi apa yang kita punya pada orang lain. Saya ceritakan tentang teman-temannya yang di bulan Ramadhan ini sedang sakit, terkena bencana alama, bahkan bencana kemanusiaan. Saya bilang kalau mereka kesusahan dalam mendapatkan makanan. Mereka menanti bantuan orang lain untuk bisa menikmati makanan. Maka, dia tak boleh makanan dibuat mainan, apalagi dibuang-buang. Kalau gak mau gak usah dimakan. Banyak orang yang tak bisa menikmati apa yang kita dapatkan. 

Kalau punya uang jangan langsung sibuk ingin ini itu, sisihkan dulu untuk kebutuhan pokok kita dan untuk berbagi kebahagiaan yang sedang kita dapatkan. Semua akan terasa mudah bila telah terbiasa. Sedekah itu tak mengurangi harta yang kita miliki, tapi malah menambahnya. Minimal besarannya sama seperti ketiga celengan kita. Kalau bisa dilebihkan untuk sedekahnya. Itu lebih baik. Dan dia mendengarkan dengan kiyip-kiyip. 

#HariKe14
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Selasa, 07 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Jajan Bukaan

Ibu ajak bocah nyari bukaan. Rame banget, ya jalannya, ya yang dagang, yang beli. Rasanya banyak yang dagang dan menunya samaan tapi masing-masing ada aja pembelinya. Berasa sekota gak pada masak. Bocah ikut bersemangat dong. Rencananya gak khilaf jajannya. Sudah direncanakan mau jajan apa aja. 

Kalau ibu dari kemarin pengen tahu isi sayur dan juga daging. Tapi, cuma dapat yang isi sayur. Paling suka tahu isi dari dulu, kalau di rumah bilangnya tahu susur, di sini tahu isi, di banjar malah gak ada yg isi sayur, adanya isi bihun. Seneng pas tahu kalau di sini ada tahu isi sayur. Masakan di Kotabaru ini paling cocok sudah, banyak jenisnya sesuai dengan suku yang mendiami. Jadi, cukup mudah kalau pengen makanan jawa, banjar, bugis, madura, dll. Rasanya lumayan sama dengan aslinya. Kalau di Banjar dulu, rasa dominan kebanjaran. Misal makanan Jawa disesuaikan sama cita rasa banjar, seberasnya pun pakai beras banjar yang seperti nasi goreng kalau udah mateng. Kalau di sini gampang aja kalau mau nasi pulen. 

Balik lagi ke jajan. Kalau ibu udah bidik gorengan. Kue-kuean dilewati. Kemarin udah semangat mau coba berbagai macam kue, tapi ternyata bocah gak mau makan, disuruh nyicip aja gak mau, cuma dlirikin sekilas doang dan langsung berpaling. Hadeeeehh.. Ceritanya pengen ngenalin makanan khas sini, tapi apa daya anaknya gak mau blas. Ibunya juga gak hobi makan manis2 gitu, dah kebiasaan kalau buka ada gorengan. Haaa.. Gak sehat ya. 

Bocah cuma tertarik lihat bentuknya. Kue bingka kan bentuknya kayak bunga, nah udah ditarik-tarik aja tuh sama bocah. Ibu langsung ingatkan kalau dia gak suka makan bingka. Dulu pernah dibelikan bingka dan karena lembek-lembek dia gak mau makan. Ibu bilang akan membelikan kalau dimakan, kalau cuma buat mainan ya gak dibelikan, siapa yang mau makan, ibu kan gak suka juga, terlalu manis dan lembek, terlebih kebanyakan. 

Lalu menemukan ketertarikan lain yaitu sate telur puyuh. Nah,  kalau ini ibu belikan karena dia suka makan telur puyuh. Dan langsung minta dimakan. Haaa.. Gak tau dia kalau orang-irang masih puasa, seperti tadi ibu dipaks makan makanan yang sama dengannya. Pengen makan bareng maksudnya. Ibu bilang lagi puasa, tapi dia belum ngerti puasa itu apa. Dia cuma tau kalau ibunya gak mau makan pemberiannya. Manyun kecewa gitu. Ibu coba terus jelaskan.

Mampir beli roti. Dia gak suka kue-kuean, tapi suka rerotian. Minta moo moo pulang. Ibu belikan, tapi yang jadi masalah dia gak sabar ingin minum. Minta ibu bantuin buka, tapi ibu gak boleh goyah dalam hal adab belanja ini. Boleh minum setelah bayar. Ibu terus usaha buat jelasin. Menyemangati antrian tinggal bentar lagi, minta dia bersabar. Tapi, terlihat dia emosi, mau lempar apapun. Ibu tentu ingatkan bahwa hal itu sikap yang buruk. Lama-lama melemah seiring dengan ibu selesai bayar. 

Penting bagi ibu memberikan contoh nyata dalam berbelanja dengan prinsip pengaturan keuangan yang baik. 


#HariKe13
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Senin, 06 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Mbakar Duit

Nyiram tanaman ke skip. Hehe.. Lupa, gara-gara pagi mesti bersih-bersih karena bocah main bedak, berasa ada badai salju di rumah (putih-putih dimana-mana). Pantes doi anteng ditinggal masak. Ternyata, oh ternyata. Sorenya dia ribut ini itu dan berakhir buka duluan (jajan ibu dicobain dulu, hahaha).

Celengan jalan. Ternyata untuk memasukan koin ke celengan butuh konsentrasi lho. Karena bening, dia mesti dibantu untuk nemuin lubangnya (apa dikasih tanda ya lubangnya, pinggirnya dikasih warna gitu). Terus untuk masukin koin butuh perjuangan dorongnya. Butuh waktu lumayan lama dan butuh disemangati Dorongnya biar kuat dan masuk koinnya. 

Habis itu dia nunjuk-nunjuk angka yang ditempel di pintu. Lalu ibu menyebutkan angka berapa itu. Tunjuk-tunjuk terus, diulang-ulang untuk waktu beberapa lama. Ini salah satu mengenalkan ciri pada uang yaitu ada angka-angka di sana. Tapi, masih gak mau mengucapkan. 

Tiduran, terdengar suara kembang api, lalu mercon. Yah, ramadhan dan idul fitri identik dengan bunyi-bunyi itu, meski gak ada hubungannya. Ibu jadi perlu mengingatkan sejak dini ke anak untuk tidak ikut-ikutan. Ibu bilang kalau ramadhan dan idul fitri biasanya banyak orang mbakar duit. Iya uang dibakar, uang dibelikan kembang api dan mercon yang cara mainnya dibakar. Itu tidak bermanfaat. Tak perlu diikuti hal-hal yang tak ada faedahnya. Ibu cerita kalau dulu, sewaktu bayi, dia sensitif dengan suara. Suara brisik sedikit langsung nangis kebangun karena kaget. Tadi pun pas vcall dengan ayahnya di teras, dengar suara mercon (jarak jauh), dia langsung lari masuk rumah. Dan belakang rumah uti suka dibuat main mercon. Ibu mesti marah-marah agar tidurmu tak terganggu. Jadi, menyalakan mercon itu membuat orang-orang marah, kesal. Masa habis puasa, yang masih suasana maaf-maafan bikin orang kesal. Kan sikap yang buruk. Terlebih orang yang menyalakan mercon selalu melemparnya kesembarang tempat dan menutup kupingnya. Sungguh sikap pengecut, bahagia melihat orang lain takut dan kaget. Itu tentu bukan suatu kebutuhan menurut ibu, kalau dimasukan ke keinginan juga jadi keinginan yang buruk, macam niat buruk jadinya. 

Uang yang didapat sebaiknya untuk hal yang bermanfaat. Seperti celengan kita. Uang bisa buat sedekah, bisa buat beli apa yang dibutuhkan, bisa buat ditabung dulu. Uang bisa sangat bermanfaat dan memberikan kebahagiaan lebih ke pada diri kita bila digunakan pada jalur yang seharusnya. Uang yang dibakar itu hanya mendatangkan kebahagiaan semu. Ibu minta persetujuannya untuk tidak beli mercon dan dia mengangguk. Hehe.. Entah ngerti atau tidak, tapi ibu tetap senang. Semoga kelak benar-benar menjauhi mbakar duit. Termasuk merokok. Ibu tak suka dengan perokok. Terlalu egois. 

#HariKe12
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Minggu, 05 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Nano-nano

Santai harinya, tak padat kegiatan, tapi banyak kalau ditulis. Masih bisa leyeh-leyeh dan tidur siang. Biasanya hari minggu, stres dengan kerjaan rumah yang gak kelar-kelar. Kegiatan hari ini yang berhubungan dengan cerdas finansial. Merawat tanaman, belanja, ngehias celengan, ngirit dalam berbagai hal. 

Belanjanya ngeborong lagi, padahal mesti ngirit. Sudah dipilih-pilih yang penting (menurut ibu). Beli baju lebaran anak. Hehe.. Baru mau mulai puasa udah beli baju. Sebenarnya gak pengen ngajarin anak mesti pakai baju baru waktu lebaran. Kenapa jadi beli? Karena tiap tahun ibu selalu dapat baju lebaran dari tante. Masa ibu aja yang pakai baju baru, anak sama suami baju lawas. Gak tega saya. Lho, suami gak dibeliin? Ayah beli sendiri biasanya karena selera yang berbeda jadi demi kenyamanan bersama beli masing-masing. Gak kembaran dong. Gak papa gak sama, yang penting pakai baju. Heee. Tapi biasanya warnanya yang sama meski di grade yang berbeda. Terus kenapa udah beli dari sekarang? Soalnya ibu bukan wanita strong. Gak puasa aja lemah letih lesu kalau mesti siang panas-panas, sumpek ke pasar. Apalagi puasa, daripada batal gara-gara beli baju lebaran, mending sekarang aja bisa sambil jajan (yah, pengeluaran yang gak penting). Jadi,  baju lebaran keinginan atau kebutuhan sih? Kalau untuk saya termasuk kebutuhan. Selain alasan tadi, juga karena baju dia udah pada kecil. Belajar adab belanja lain, tawar sewajarnya, beli kemudian. Mudah dalam menjual, mudah dalam membeli. 

Habis belanja baju, belanja sayur, buah, susu. Harga-harga emang pada naik ya, tapi mau gimana lagi, untuk anak pastilah diusahakan. Kalau ke pasar semua pengen dibeli, makanya lebih suka beli di tempat paman sayur, tapi ditungguin sampai siang gak jualan, terpaksa deh panas-panas keliling sama bocil. Untung dia cukup kooperatif hari ini. Mau jalan sendiri. Belinya cuma sedikit tapi harganya seperti beli banyak. Beli susu juga, dia kan kurang minum dari hasil lab setiap dia sakit, jadilah sering beli susu untuk mancing minumnya. Pengennya bisa beli langganan kayak dulu di rumah, tapi di sini gak ada. Jadi lah beli susu pasteurisasi atau uht. Kalau saya rasa enak yang pasteurisasi rasanya. Lagi-lagi kebutuhan ya. Meski mahal, tapi untuk kesehatan bisa diusahakan. Kenapa gak makanan kuah atau buah yang banyak airnya. Itu sudah ya. Tapi doi gak mau banyak makan kuah. Buah juga udah, tapi hasil lab tetap gitu ya. Apalagi ibu gak bisa makan buah seperti semangka, langsung limbung. Jadi, cuma makan seperti pir, yang beli bisa bijian, kalau semangka mesti setengah, siapa yang mau habisin. 

Kegiatan merawat tanaman, masih seputaran nyiram tanaman. Paling suka kalau nyiram-nyiram. Lagi ngasih minum tanaman ya. Tapi, gak boleh banyak-banyak, nanti bisa busuk akarnya. Asal lembab aja. 

Celengan kembali dihias. Tadi ibu dan dia main warna. Ibu yang gambar, dia yang kasih warna. Meski asal aja, tapi dia seneng dan puas dengan hasil karyanya. Dalam keriangan, ada stimulasi jari-jarinya untuk langkah awal menulis. Sering-sering pegang alat tulis dulu. Setelah selesai, ibu gunting motif yang tak nampak lagi bentuknya. Lalu dia tempel ke celengan. Biar lebih semangat kasih makan celengan, biar cepat penuh. Tak lupa mengulang pemahaman. Apa kebutuhan, apa sedekah, kenapa sedekah, sedekah tak melulu uang, sedekah mesti dibiasakan biar gak terasa berat, dll. 



Untuk ngirit, bisa dalam menggunakan energi. Karena hari panas banget, nyalain kipas, tapi ketika sudah bangun tidur mesti matikan kipas. Tidur gelap-gelapan, dibiasakan dari kecil, jadi terbiasa sampai tua. Mandi pakai sabun secukupnya, dia sering minta sabun untuk melumuri badannya sendiri, biasanya saya kasih sedikit dari yang sudah ada di tangan saya. Dia bisa belajar mandi sendiri tanpa buang-buang sabun. 

#HariKe11
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Sabtu, 04 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Bertanam dan Belanja

Bantu-bantu berkebun. Ikut gali tanah buat ngubur sampah organik dapur, juga menyiram tanaman. Seneng ikut gali-gali tanah karena bisa sekalian main tanah. Seneng ikut nyiram tanaman karena sekalian bisa main air..hehe... 

Ibunya ingin menghemat pengeluaran dengan nanam bumbon. Bisa sekalian buat sarana belajar dia. Banyak hal yang bisa dikaitkan, salah satunya menerapkan cerdas finansial. Kalau bisa petik di kebun sendiri kan lebih baik daripada beli. Sering terbuangnya kalau beli. Seperti cabai, karena gak sering pakai jadi tersimpan lama, kemudian layu dan busuk. Nah, nanam saja, kalau perlu tinggal petik secukupnya. Karena nanam dari biji cabai, maka pohonnya baru bertunas, masih lama lagi untuk besar berbuah. Saya juga gak bisa bertanam, jadi masih coba-coba, sekalian memberikan aktifitas lain untuk anak. 

Bertanam rumahan ini cukup menghemat pengeluaran. Kalau sukses bertanam, jadi berkurang anggarannya untuk beli bumbon atau sayur. Juga untuk beli pupuk karena pupuknya dari sampah dapur juga. Enak kalau punya halaman tanah, tinggal gali-gali buang deh sampahnya di situ, mengurangi volume sampah harian. 

Aktifitas ini saya rasa pas untuk memberi pembelajaran kepada anak. Dia setidaknya memiliki kenangan bertanam yang mungkin akan menggugahnya di kemudian hari. Bertanam bisa sambil mengenalkan dengan Pencipta alam semesta, proses makanan yang dia makan, cerdas finansial, belas kasih pada makhluk lain (tanaman juga butuh minum), dll. 

Saya ceritakan maksud dan tujuan saya mulai bertanam.



Hari ini akhirnya jadi ke bazar buku. Ada buku cerita tentang tata surya, ada roket, matahari, bulan. Senang dia dengan buku itu. Dibawanya terus. Mau dibeli tapi masih ragu karena dia sudah punya buku setipe. Baru mikir dan lihat gambar alat transportasi dan setelah diambil ternyata puzzle. Ini pasti senang dia. Benar saja, waktu dikasih, dia langsung tertarik, buku yang tadi langsung diacuhkan. Ganti puzzle yang dibawa kemana-mana, tak bosan-bosan nunjuk gambar-gambarnya. Apalagi kalau truk sedang lewat, langsung dicocokin ke gambarnya. Hahaha... 

Karena masih dibungkus plastik, dia minta buka. Ibu bilang mesti dibayar dulu baru dibuka. Awalnya enggan. Tapi mau juga meski dia menyerahkan ke ibu, gak mau menyerahkan langsung seperti kalau ke kasir. Dimainkan terus sepanjang hari. Intinya mesti bijak belanja, kalau sudah punya yang serupa, tak perlu membeli lagi, anggarkan untuk yang lain. Tetep adab belanja jalan terus, jauhi pengecualian, meski dia bermuka sedih. 

#HariKe10
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Jumat, 03 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Cerita

Hari ini cukup panas. Bocil gerah, tak nyenyak buat tidur. Ibu pun bilang,  apapun keadaannya kita mesti bersyukur. Bersyukur meski panas, kita punya kipas, punya rumah. Setidaknya masih ada hal lain yang membuat kita lebih beruntung dari orang lain. Banyak orang yang tidak punya rumah. Sehingga kepanasan dan kedinginan. 

Agar tak panas bisa pakai ac. Tapi, ibu tak mampu membeli dan merawat ac, hanya ada kipas. Meski tak sedingin ac tapi menawar panas dengan angin. Hanya kipas pun harus bersyukur, dirawat supaya awet. Jadi tak memgeluarkan biaya lebih untuk perbaikan yang sebenarnya tak perlu. Kalau sudah dingin dan tak dipakai, kipasnya dimatikan. Agar menghemat energi sekaligus menghemat listrik, sehingga pengeluaran juga berhemat. Mengurangi hal-hal yang tak perlu membuat kita lebih baik dalam mengelola keuangan. Dan anak pun juga ikut bertanggungjawab terhadap keuangan keluarga dengan memberikan tugas mematikan semua peralatan yang tak dipakai dan ikut merawatnya. Pun hal itu menjadi bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang telah diberikan kepada kita. Dia pun sering mematikan kipas sendiri kalau sudah tidak perlu. 

Masuk hari ke 9

#HariKe9
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Kamis, 02 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Cerita

Seperti saat pertama menjalankan tantangan kali ini, prolognya mengenang pengaplikasian strategi keuangan masa kecil ibu. Jadi, hari ini selain nyelengi seperti biasa, juga bercerita tentang masa kanak-kanak ibu. Ini sebenarnya nyontek dari ibu saya. Dulu sering sekali cerita tentang masa kecil beliau dan sampai sekarang saya masih mengingatnya. Bercerita tentang bagaimana hari-harinya yang membuat saya selalu bersyukur dengan keadaan saya. 

Beliau sekolah naik turun gunung bertelanjang kaki berbekal gula jawa, minum air sungai. Kalau lagi beruntung petani yang kebunnya mereka lewati memberikan sebagian bekalnya. Maka, saya mesti bersyukur sekolah dengan berbagai kenyamanan. Saya rasa anak saya juga mungkin akan seperti itu. Mengingat masa lalu untuk mensyukuri masa kini dan membuat perubahan di masa depan. Saya rasa menanamkan pemahaman sesederhana bercerita juga sama pentingnya dengan mempraktekannya. 

Saya bercerita tentang cara saya mengelola keuangan saat kecil. Saya bilang kalau setelah puasa ada hari raya yang biasanya anak-anak akan mendapatkan uang dari orang-orang. Sama seperti anak lain, senang pasti. Tapi tak lantas langsung menghamburkan uang yang didapat begitu saja. Apalagi untuk beli kembang api dan mercon. Eyang selalu bilang itu sama halnya membakar uang, tak ada manfaatnya. Maka, biasanya ibu akan jajan apa yang paling diinginkan, seringnya es krim karena termasuk barang mewah. Kemudian, uang sisanya ditabung. Saat masuk sekolah lagi uang itu digunakan untuk membayar uang sekolah dan buku, tanpa paksaan orang tua, ingin membantu orang tua. 

Saya pun bilang ke anak, kita boleh punya keinginan tapi tak bisa semua keinginan kita terpenuhi. Pilihlah yang paling penting, yang paling dibutuhkan. 

Saya kaitkan dengan beli mainan. Dia selalu ingin beli mainan. Tapi, suka sembarangan memperlakukan mainannya. Dibanting, dibongkar, dicopotin. Sebisa mungkin tak marah, sebisa mungkin memberikan pengertian. Mesti bersyukur kalau dia bisa dibelikan, diberikan, dipinjami mainan. Karena tak semua orang bisa merasakan kemewahan itu. Ada anak yang tak mampu mewujudkan keinginannya memiliki mainan. Maka, kalau kita punya mainan baiknya dijaga, agar bisa dimainkan berulang. Bisa main dengan teman atau bahkan nanti kalau punya adik, bisa dimainkan bersama adik kalau mainannya awet, gak rusak. Baik-baik lah sama mainannya, taruh mainannya pelan-pelan, tak perlu dibanting atau dilempar. 

Cukup panjang saya bercerita, random, dan susah dicerna anak-anak, tapi saya sudah berusaha. Semoga dia memahami. Meski sambil kiyip-kiyip matanya seperti mendengarkan dongeng yang membosankan. 

#HariKe8
#Tantangan10Hari
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Rabu, 01 Mei 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Belanja

Gajian, saatnya belanja. Sudah pada habis juga ini barang-barang di rumah. Semangat sekali dong bocil diajak belanja. Sampai rela naik tangga toko. Masuk, langsung minta naik troli seperti biasa. Auto nunjuk air mineral literan. Hahaha... Kemarin sempet beli terus karena gak sanggup angkat galon. Ibu bilang hari ini gak beli minum botol, kan udah beli galon. Mendadak lupa mau beli apa aja. Haaa... Saking banyaknya barang dan semua minta dibeli. Sebelum kalap, langsung beli sabun anak. Ibu ambil-ambil dan dia sebagai penadah, semangat naroh-naroh ke troli. Pas lewat bagian sikat gigi, dia bilang "gigi.. gigi.. ". Dia nunjuk-nunjuk ingin beli. Mau ambil tapi lihat ibu dulu, geleng kah ngangguk kah. Hmmm, saatnya ganti sikat gigi. Ibu ngangguk dan dia ambil sikatnya. Saya bebasin aja dia mau beli sikat gigi yang mana, biar semangat sikat giginya. Udah satu diambil, nah mau ambil lagi yang lain. Ibu bilang "kita cuma beli satu sikat gigi aja, mau yang mana, mesti milih". Gak jadi ambil, tetap pada sikat gigi pinguin yang sudah diambil duluan. 

Pas muter-muter cari barang, lewat deh bagian mainan. Dia langsung kepincut sama pesawat-pesawatan. Minta beli dong. Ibu jelasin kalau saat ini belum ada uang buat beli mainan, adanya buat beli kebutuhan harian. Saya lihat mukanya kecewa, manyun, sedih tapi saya rasa bukan kebutuhan, jadi tetep teguh tidak beli. Saya elus-elus mukanya, emosi sepertinya, dia mau lempar mainan yang dia bawa dari rumah, tapi dia urungkan. Perlahan hilang perasaan kecewanya. Semangat lagi masuk-masukin barang ke troli. 

Beli es krim juga. Kali ini beli yang stick. Biar bisa dia jilat-jilat buat stimulasi lidah untuk lancar bicara. Karena ini pertama kalinya, jadi bukan dijilat, digigit. Dia merasakan sensasi dinginnya, ibu aja gak berani gigit es. Dan belepotan, ibu lupa gak bawa sapu tangan. Kebetulan hujan, jadi cuci pakai air ujan aja. Waktu beli es krim dia gak sabaran minta buka, padahal kasir masih antri. Ibu jelaskan kalau kita mesti bayar dulu baru makan es krim. Ibu minta dia sabar, ibu tunjuk orang-orang yang antri juga, termasuk kakak yang sedang antri. Oke dia antri tapi sambil nyomot perman. Dikasih ibu minta dibeliin. Tentu tidak, ibu tidak suka permen dan terlebih dia susah gosok gigi. Jadi, kurangi manis karena dia sudah makan yang manis lainnya. Ibu tidak ijinkan dan dia pasrah mengembalikan ke tempatnya. Kita sudah beli es krim jadi tak beli permen. 

Kegiatan nyelengi masih berlangsung. Ketika ditanya celengan mana untuk belanja dll, jawabnya berubah-ubah, suka-suka dia nunjuk yang mana. Yah, tak masalah, sama juga isinya. Dia tahu celengannya dikasih retsliting sama seperti jaketnya. Dia iseng mau buka, dilihatnya ibu. Ibu tak ijinkan, ibu bilang dibukanya nanti kalau sudah penuh. Tak jadi dibuka. 

#HariKe7
#Tantangan10Hari
#Level8
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

#KuliahBunsayIIP