Kategori

Rabu, 26 September 2018

ALIRAN RASA KOMUNIKASI PRODUKTIF

Saya menjalankan tantangan komunikasi produktif bersama anak saya. Di dalam berkomunikasi produktif terdapat indikator-indikator untuk membantu agar terlaksana sesuai tujuan. Indikator untuk komunikasi produktif dengan anak terdapat 10 indikator, yaitu :
1.   Mengendalikan Emosi
2.   Keep Information Short & Simple (KISS)
3.   Intonasi Suara dan Gunakan Suara Ramah
4.   Ganti Kata "Tidak Bisa" menjadi "Bisa"
5.   Jelas dalam Memberikan Pujian dan Kritikan
6.   Mengatakan Keinginan
7.   Refleksi Pengalaman
8.   Menunjukan Empati
9.   Ganti Perintah dengan Pilihan
10. Observasi

Dari kesepuluh indikator tersebut, tanpa kita sadari sebenarnya telah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja belum mengerti bahwa itu disebut komunikasi produktif, seringnya hanya berupa try and error (tidak bisa pakai cara ini, pakai cara yang lain), dan sering kelupaan untuk mengikuti nurani karena sedang dilingkupi emosi.

Nah, dengan adanya penjelasan tentang komunikasi produktif dan indikator-indikatornya, maka kita bisa lebih terarah dalam berkomunikasi (khususnya dengan anak) dan lebih berhati-hati lagi (karena sudah ada remnya, meminimalkan keceplosan yang berakibat menyakiti hati anak).

Dengan menjalankan tantangan komunikasi produktif membuat saya hafal dengan indikator-indikatornya. Jadi, bisa lebih mudah mempraktekan komunikasi produktif (apakah komunikasi saya dengan anak sudah produktif atau belum).

Namun, tidak semua indikator bisa saya lakukan dalam waktu sehari. Apalagi dengan kondisi banyak kegiatan dan banyak orang yang ditemui. Otomatis komunikasi dengan anak akan menurun, tidak seperti kalau hanya berdua di rumah saja.

Juga, karena anak saya belum genap berumur 1,5 tahun. Jadi, komunikasi produktif yang dilakukan masih berulang-ulang untuk hal yang sama. Dan seringnya satu arah (saya menerangkan banyak hal tanpa ditanggapi seperti layaknya berkomunikasi dengan anak yang lebih besar). Tapi, saya yakin otaknya bisa menerima apa yang saya komunikasikan, hanya dia belum tau cara meresponnya.

Kendala yang dihadapi saat menjalankan tantangan ini adalah waktu menuliskan kembali kejadian saat mempraktekan komunikasi produktif. Karena seharian padat acara, sehingga hanya ada waktu di malam hari yang terhambat oleh fisik yang lelah. Maka, seringkali membutuhkan waktu lama untuk mengingat kejadian-kejadian yang akan ditulis dan lambat memikirkan bagaimana menuliskannya. Terkadang pula terlewat menuliskannya karena ketiduran saking lelahnya, dan terbangun saat waktu pengumpulan telah lewat. Semoga tantangan selanjutnya bisa lebih baik.

Kamis, 20 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 13

Rencananya mau pergi kirim barang, makanya Atthar ganti baju buat main. Ternyata si ayah mau kirim lewat Jogja aja besok. Jadi, santai2 aja, gak keburu2 kalau mau keluar. Ternyata Atthar dah berharap banget mau pergi. Dia sudah bisa ngambek karena kecewa gak jadi keluar. Yang tadinya semangat, tiba2 dia gak mau duduk deket orang tuanya. Malah milih duduk di pojokan sendiri, diam saja. Terus berdiri di dekat pintu, diam saja. Digendong gak mau, gak ngamuk, gak bilang apa2. 

Akhirnya ayah dan ibu ajak pergi dan dia semangat lagi, senang. Pergi beli mi ayam, ayah makan dulu, ibu dan Atthar keliling pasar, kemudian gantian. Setelahnya, bingung gak ada tujuan, jadi mutusin buat lihat monyet lagi. Tapi, sampai di sana monyetnya gak ada gara2 lagi ada perbaikan tembok. Yah, sayangnya, tapi Atthar gak nampak kecewa, mungkin yang penting pergi aja dia. Setelahnya, pulang dan Atthar bisa tidur nyenyak, termasuk ayah dan ibu.

************************************************************

Rabu malam, kami berpamitan ke rumah uyut. Rame lah di sana, Atthar kumpul dengan sepupu2nya. Pertama-tama Dia malu2, lama2 bisa ikutan main dengan sepupu2nya. Dan rebutan mainan. Heboh. Saat rebutan, Atthar jengkel dan membuang mainan, mengenai kepala sepupunya. Nangislah sepupunya. Ibu memberitahu Atthar kalau sikapnya gak baik. Kalau seperti itu bikin sakit temannya, juga Atthar gak mau diperlakukan seperti itu kan. Mungkin Atthar belum mengerti sekarang, tapi semoga saja bisa diingat olehnya kalau hal itu tidak baik. Ayah dan Ibu menyuruh Atthar untuk minta maaf. Agak keberatan dia. Sampai didorong2 ayahnya. Karena dia belum bisa bilang maaf, jadi diungkapkan dengan salim dan cium pipi sepupunya. 


Selasa, 18 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 12

Ibu dan Atthar dari pagi sampai siang cuma tiduran. Mau beraktifitas si bocil gak mau ibunya gerak dikit. Akhirnya ibu ketiduran, kebangun dengan kaget karena bisa ketiduran saat anak belum tidur. Untungnya Atthar kalem main sendiri deket ibu. Langsung lega. Maafkan ibu yang ketiduran ya nak. Dan terimakasih sudah jadi anak manis selama ibu tidur.

Ibu bangun, bocil langsung nemplok, minta minum dan gak lepas2. Ibu yang kebelet banget sampai gendong Atthar ikut ke kamar mandi. Dia bisa lepas gegara lihat air di tong, main air deh. Sebelum basah-basahan ibu bawa keluar. 

Kepala ibu sakit, mungkin salah tidur. Ibu ajak Atthar jalan2 bentar sekitar rumah, biar agak entengan. Seneng Dia lihat orang lagi motong rumput. Bunyinya yang gaduh cukup menyihirnya sampai susah diajak masuk rumah.

Lepas tengah hari si ayah pulang, langsung nemplok ayahnya, sampai mau ganti baju aja gak bisa gegara Dia gelantungin kaki ayahnya. hahaha...lucu lihat tingkahnya. Bahkan sampai akungnya pulang gak digubrisnya, pokoknya sama ayah kemana-mana.

Atthar gak mau tidur siang, padahal udah minum obat juga. Akhirnya ikut ayah vermak baju. Semangat banget mau perginya. Langsung ambil sepatu minta ayahnya pakaikan.

Si ayah ngajak lihat monyet di Bukit Tidar. Masuk lah kita ke bukit, tapi tak menemukan seekor monyet pun. Padahal dulu banyak. Mau naik sampai puncak, rasanya gak sanggup dan si bocil juga sudah lelah naik tangganya, minta gendong. Jadi cuma sampai di pemberhentian pertama dan duduk2 untuk beberapa saat. Sambil duduk2, si ayah cerita sama Atthar kalau dulu ayah dan ibu pernah ke sini waktu Atthar masih di perut. Bernostalgia deh.

Habis itu kita putuskan pulang lewat atas menelusuri tepi bukit. Dan bertemulah kita dengan para monyet yang dicari. Rame bergelantungan di pohon, duduk2 di tembok, dan berjalan-jalan. Berhentilah kita sejenak melihat pemandangan itu. Atthar heboh melihat kawanan monyet. Menunjuk2 sambil bilang "huuuuuu....huuuuh....", seakan memberitahu kami. Cukup lihat monyetnya, kami putuskan pergi ke alun2. Tal lupa Atthar dadah dengan para monyet.

Di alun2, terlihat di bawah pohon beringin di tengah lapangan, ada anak sedang belajar merangkak dan diawasi ayahnya. Si ayah bilang pada Atthar bahwa itu ada temannya belajar merangkak dan tidak minta gendong ayahnya. Bilang gitu karena Atthar gak mau turun dari gendongan. Akhirnya mau juga turun sesampainya di bawah beringin. Dia juga berusaha naik pelatarannya. Dan dibantu ayah karena masih terlalu tinggi untuk dipanjat Atthar. 

Setelahnya, kami makan di pusat kulinernya. Ayah makan batagor, ibu makan mi ayam, dan Atthar makan ceker. Dia makan dengan lahap, makan sendiri sambil disuapin. Dan banyak minum jeruk hangat.

Pulangnya mampir ke angkringan mau beli sate hati dan ternyata gak ada. Jadi, cuma beli sate telur puyuh untuk Atthar. Dia udah ngebet mau makan, ibu kasih satu. Ternyata baru disuap separo, anaknya udah ketiduran. Sampai rumah pun masih tidur.


Senin, 17 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 11

Hari ini, kami bertiga kembali ke Magelang. Perjalanan jauh lagi untuk Atthar. Kasian sebenarnya, cuma sesaat di suatu tempat dan lanjut ke tempat yang lain. Karena keterbatasan waktu dan tempat yang harus dikunjungi banyak. Semoga selalu sehat. Dan selama perjalanan panjang ini, Atthar gak mabok. Dia selalu tidur selama perjalanan. Terkadang kebangun di tengah perjalanan, tapi gak lama bangunnya, minta minum dan tidur lagi. Setiap bangun, dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri, biasanya minta digendong ayahnya terus. 

*************************************************************

Atthar dapat mainan baru dari eyangnya. Mainannya ada tali yang mesti ditarik agar bisa jalan. Ibu kasih tahu cara maininnya. Lama2 dia paham, tapi masih susah narik talinya karena tangan yang satunya belum bisa nahan mainan. Bosan main itu, main yang lain. Ibu gak mau paksa untuk langsung bisa, biar saja dia lalui segala prosesnya. 

*************************************************************

Atthar lihat utinya masak pakai angklo. Saking penasarannya, dia mau lihat dari dekat. Karena sangat berbahaya, ibu mesti larang. Ibu bilang "Atthar lihat dari sini saja ya". Pertama berontak, lama2 ketika ibu jelaskan kalau itu panas (sambil lebih dekat ke angklo agar terasa agak panas) dia menyingkir dengan sendirinya.

*************************************************************

Mencoba pakai sandal jepit masih berlangsung. Dia coba2 sendiri dan sudah berhasil masukin kakinya ke sandal, tapi masih belum bisa melangkah. Copot terus sandalnya ketika dia mau melangkah. 

*************************************************************

Ketika main dorong ember. Dia seolah2 mau pergi. Jadi sebelum lanjut dorong, dia hampiri ibu, minta cium tangan dan dadah. Baru deh dorong ember lagi. hehe... anak ini sudah mengerti kalau sebelum pergi itu salim dulu.


Minggu, 16 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 10

Ibu sebisa mungkin gak ijinin Atthar mainan makanan, meski berakhir ngamuk. Bagi Ibu, makanan bukan buat mainan dan itu seperti tidak mensyukuri nikmat. Di saat banyak sekali orang yang gak bisa makan. Meski ada yang berpendapat gpp anak mainan makanan untuk eksplorasi, stimulasi dll. 

Atthar mulai ambil toples, minta isinya. Ok dikasih satu. Ambil satu, lalu Dia makan. Ketika doyan, Dia akan minta lagi. Ok kasih lagi. Gak dimakan tapi minta lagi. Stop. Toleransinya cuma 2. Gak akan dikasih lagi kalau belum dihabisin. Ibu bilang, "Habisin dulu yg ini." Masih ngerengek, "Kalau sudah habis, nanti dikasih lagi". Nah, kadang berhasil kadang gak. Kadang Dia habisin terus minta lagi. Kadang bersikeras mau minta lagi tanpa dihabisin. Kalau sudah gitu bakal ngamuk kalau gak dikasih. Biasanya dialihkan dulu perhatiannya ke arah lain sambil disembunyikan toplesnya. Kalau tidak berhasil juga ya sudah dijauhkan dari toples meski Dia ngamuk. Mungkin bagi sebagian orang yg lihat bakal mikir Ibunya kejam, tapi bagi Saya itu yang terbaik yang bisa Saya lakukan untuk menjadikan Atthar anak yang baik. Mesti tega. Saya gak mau  sayangnya Saya menjerumuskan Dia.

*************************************************************

Hari ini jalan2 ke tempat Eyang dari Ayah. Diajak jalan ke pantai. Si Ayah cerita nostalgia ke Atthar.Berbagai macam hal diceritakan.

*************************************************************

Atthar menunjukan keinginan belajar pakai sandal japit. Berusaha memasukkan kakinya ke sandal japit. Dia menarik Ibu untuk membantunya memakai sandal. Ibu kasih contoh cara pakainya, selanjutnya Atthar coba sendiri. Beberapa kali bisa masuk kakinya, tapi belum bisa jalannya. Jari kaki belum bisa menjapit sandal, jadi lepas2 terus. Seneng lihat usahanya. 

Dia juga berusaha pakai sepatu Tante, tapi Ibu coba arahkan Dia pakai sepatunya sendiri. Atthar mau pakai, semangat belajar pakai sepatunya sendiri.

*************************************************************

Dia mulai bosan menunggu di rumah mbah. Semua barang2 dibantingnya. Ibu coba alihkan Atthar untuk memasukan snack ke toples dan Dia pun setuju. Akhirnya main lagi memasukan snack ke tempatnya, mengambilnya dan membagikan ke orang2. Moodnya baik lagi.

Dia juga berusaha memasang tutup toplesnya. Dia tekan2 untuk menutup, Ibu ajari kalau tutup toplesnya diputar. Ketika sudah menutup, Dia gak bisa buka dan mulai teriak2. Ibu bilang ke Atthar untuk usaha dulu membukanya. Bilang setiap tutup toples itu beda2, ada yg ditekan, ada yg diputar. Dan mencontohkan caranya.

**************************************************************

Atthar bersikeras mau mandi di pantai, tapi karena gak ada agenda main air, jadi dialihkan dengan naik kapal. Meski saat lihat air keinginan main airnya terus muncul.

**************************************************************

Ayah membisikkan keinginan, doa agar Atthar menjadi anak sholeh, anak yg nurut dengan ibu dan ayah.


Sabtu, 15 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 9

Lelah membuat Ibu jadi emosi, secara gak langsung Atthar jadi korban ucapan, maaf y Nak. Saat sakit, Dia hanya diam saja dan lemas. Tapi pagi-pagi mesti bangun dan seharian tidur di mobil. Kasian. Setiap kali bertemu dengan orang, Ibu suruh Atthar salim dan Dia mau melukannya dan orang-orang suka, serta mendoakan agar pintar. Tentu Ibu juga ingin Atthar seperti Itu. Ibu memuji Atthar yang mau salim dengan orang lain. Tapi Ibu juga bilang, kalau ada yang gak mau diajak salim (anak2 lain), maka tidak perlu memaksa. Pun ketika main tutup botol, Dia gemes gak bisa buka tutup botol. Ibu kasih contoh dan Dia mengikuti, tapi gak berhasil. Ibu kasih semangat kalau Atthar pasti bisa, lama2 Dia mengerti caranya.

https://www.canva.com/design/DADCWr5PRmo/DInnDrtBnyZ3X4t3Y9LWUw/edit

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 8

Hari ke - 8 ini sudah padat acara, juga Atthar akhirnya tepar. Di awali dengan pijit yang harusnya sudah dari kemarin tapi baru sempat sekarang. Dan hasilnya numpuk pegal dan Atthar teriak2 di tempat yg Dia pegal. Ayah dan Ibu berusaha keras buat nenangin. Dari lihat video, nanyain dimana ayam, dll, cuma bertahan sebentar dan nangis lagi.

Ibu menanyakan bagian mana yang sakit, seperti apa sakitnya, sakit sekali ya (sambil pegang bagian yang kira2 sakit). Atthar menjawab dengan gerakannya menolak tangan Ibu. Begitu pula saat periksake dokter malamnya (tetiba panas dan batuknya makin parah). Ibu menguuatkan Atthar bahwa cuma diperiksa, gak diapa-apain, tapi Atthar terus saja teriak2. Setelah selesai Ibu tanya "mana yang sakit?","Gak sakit kan?", Kan gak diapa-apain."

Badan lelah, ngantuk, lama sekali nunggu dokternya (bosan), ditambah Atthar gerak terus (juga muntah) cukup


Rabu, 12 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE -7

Seperti sebelumnya, Atthar rewel kalau ditinggal Ayahnya. Uring-uringan seharian. Sama Tantenya diajak ke rumah selatan. Dia lihat Tantenya bersih2 kebon dan Ibu bikin buket coklat untuk wisuda Ayahnya. Atthar juga bantuin Ibu. Atthar ambilin gunting buat motong kain bungkus buket. 

****************************************************************

Atthar juga diajak menelusuri kuliner jaman Tante dan Ibu masih sekolah. Beli bakso tuguran kesukaan Tante dan beli lekker yang antrinya banyak banget. Sambil antri minum dawet.

****************************************************************

Tante balik sore ini, jadi agak ribet. Atthar dialihkan dengan mainannya biar gak rusuh. Ibu bilang, "Ini Atthar, masukin kentangnya ke keranjang ya." Dia melakukannya.

****************************************************************

Sewaktu di supermarket, sambil menunggu Tante bayar belanja, Atthar duduk di samping mbah2. Mbahnya ngelus muka Atthar dan Atthar mengulurkan tangan. Mbahnya menyambut tangan Atthar dengan bingung. Ibu bilang salim dan Mbahnya mulai mengerti. Lebih terheran2 lagi dengan Atthar menyium tangan Mbah. Dan dibilang pinter. Ibu jawab aamiin. Ibu jadi makin semangat untuk meminta Atthar salim. Karena setiap salim, orang2 memberikan doa kepadanya.

****************************************************************


KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 6

Atthar mungkin kecapean karena beberapa hari ini sering tidur. Mestinya sudah pijat tapi belum sempat. Jadwal padat dan komunikasipun sekenanya saja.

Selain tidur terus, juga rewel. Minta gendong terus. Di sini Ibu mesti sabar karena Dia perlu rasa nyaman.

Seharian ini, Atthar bepergian dan selama di jalan Dia tidur. Di sela-sela perjalanan, Atthar membuat orang-orang memujinya pintar, misal ketika Dia suka sekali salim, dadah, dan sebagainya, Dia memberikan senyumnya, Dia memberi tahu orang-orang kalau ada pesawat lewat, dll.

Ketika beraktifitas terkadang ada hal yang tidak diinginkan, seperti ketika menunggu Ayah, Atthar jalan berkeliling dan sempat terpeleset jatuh, Ibu menunggu Atthar tidak lagi terkejut, baru membangunkan dan menanyai apa ada yang sakit dan sebagainya.


Selasa, 11 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 5

Hari ini padat sekali acara. Sampai saat ini pun masih di acara makrabnya si Ayah. Semoga selalu sehat ya Nak.

Pagi tadi ditinggal Ayah ke kampus pagi2. Si Ayah pamit tapi Atthar masih belum sadar dari tidurnya. Giliran kebangun dan tahu Ayahnya gak ada di sampingnya, Dia mulai ngambek. Dan gak sampai di situ. Ngambeknya sampai seharian. Rewel banget. Banyak tidurnya tapi tiap kali bangun langsung nangis2. Sampai waktu Ibu ke kamar mandi digedor2 pintunya sambil nangis teriak2. Kasiannya. Ibu cukup kewalahan dan menguras emosi dengan tingkahnya. Syukur masih dapat sabar.

Ibu tanya apa yang dirasa Atthar. Menjelaskan Ayah nanti pulang lagi dan sekarang lagi apa. Terus menghibur Dia, menggendongnya, main bareng. Dan akhirnya sama Tante diajak pergi. 

Kita pergi ke rumah Akung. Melewati jalan2 yg dulu akrab dilalui waktu kecil. Ibu dan Tante sambil cerita kalau dulu pernah tinggal di situ, menceritakan tempat2 nostalgia. Dan Atthar teralihkan dengan truk, pickup, angkot, bus yg lewat. 

Main di play ground ditemani Tante, Si Atthar suka sekali bongkar2 tapi gak suka masangnya. Pas mau bongkar lego, Dia emosi gak bisa ngelepasnya. Tentu Ibu dan Tante menyemangati Dia untuk terus mencoba dan bisa. Banyak hal baru yg Dia lakukan di playground, seperti mandi bola, main masak2an, puzzle, jungkat jungkit, naik mobil (spontan Dia bisa buka tutup pintu mobilnya).^^

Seperti biasa Atthar ini makan selalu mau main2. Tentu masih sama pilihan yang diutarakan padanya. Mau main atau makan. Dan berakhir dengan makanan disita

Doa2 Ibu setiap saat adalah bentuk keinginan Ibu agar Atthar menjadi anak sholeh, ahli surga.


Minggu, 09 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 4

Hari ini, Atthar nge-sunmor sama tante2nya. Merasakan naik angkot, melihat banyak orang, dan mengenal tempat baru, serta berbagai macam kebaruan stimulus panca inderanya. Pengalaman dan pembelajaran yang baik untuk Atthar.

Sepanjang jalan Atthar heboh melihat bus2 dan truk2. Dia tunjuk terus dan Ibu menjelaskan singkat2 jenis, warna mobil besar itu. Ekspresi takjubnya gak pudar2, menggemaskan. Dan berkesempatan mengabadikan ketakjubannya.

****************************************************************

Intruksi masih tetap pendek2, agar mudah dicerna. Seperti ketika mainannya berhamburan.

Ibu : "Atthar, tolong ambil baloknya." 
Atthar : Ambil balok.
Ibu : "Taruh sini Nak."
Atthar : Menaruh di tempatnya. Sampai semua terkumpul.

Ok. Mainan rapi lagi sekaligus mengajari Atthar beberes.

****************************************************************

Seperti yang sudah2, tiap sesi makan (bila sudah bosan) ada aja mainnya. Gak boleh jadi kebiasaan, maka konsisten menetapkan pilihan padanya. Mau makan gak main atau mau main gak makan (main selain makanan tentunya). Mungkin sudah kenyang, maka Dia terus berusaha mainin makanannya. Ok. Cukup makannya. Silahkan main, makan diambil. Ngerengek pasti, tapi Ibu harus teguh pendirian demi masa depan yg lebih baik (ceileeee..^.^).

****************************************************************

Main juga masih sama, ada frustasinya juga. Minta semua keinginannya terwujud dengan mudah. Eeiiiiiits... Gak segampang itu hidup ini Nak. Bukan Ibu mempersulit hidupmu, tapi karena Ibu peduli dan sayang padamu. Ibu akan terus menyemangati dan mendukungmu karena Ibu yakin Kamu bisa melakukannya sendiri. Apalagi, kalau gak ambil mainannya. Entah dikolong2, di dalam baju, di dalam kotak, dll. Dengan tanpa dibantu pun ternyata Kamu bisa melakukannya. Pintarnya anak Atthar memecahkan sendiri masalahnya.*.*

****************************************************************

Ibu hampir terpancing emosi ketika Atthar mulai gemes. Kalau udah gemes, Dia bisa menyakiti orang lain. Ibu jadi korbannya dengan rambut dijambak sampai jatuh, puting digigit pas lagi minum, muka dan badan tiba2 dipukul, dll. Gak boleh Atthar melakukan KDRT. Harus diperbaiki dengan tegas ini, meski Dia masih bayi. Diingatkan kalau hal seperti itu tidak baik. Minta Dia untuk melepaskan tawanan. Sampai pura2 nangis, sebenarnya pengen nangis beneran karena memang sakit. Hal itu menimbulkan rasa empatinya. Dia yang tadi menjauh, akan mendekat dan mencoba untuk menghibur (entah dg bicara, manggil2), "ya..ya..yyyaaaaa..hehehe" seperti itu kira2. Hahaha....

****************************************************************

Dalam bermain pasti terkadang ada cideranya. Dia suka lempar2 barang sembarangan. Kali ini balok yg dilempar, berserakan dimana-mana dan akhirnya terpeleset. Reaksi pertama kaget, terus bingung, dan berakhir nangis2. Kita tanya dong, "Sakit kah Nak? Yang mana yang sakit?". Dia akan menunjuk yg sakit sambil bilang, "Eeeehhh..eeehhh.."(nunjukin kakinya). Ibu akan membelai kakinya dan meniupnya. Kembali lagi deh cerianya sehabis itu.

Checklist


Sabtu, 08 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 3

Hari-hari di rumah ituuuu bisa dibilang hari-hari santai. Soalnya banyak yang bantu jagain Atthar. Hehe.... Tapi juga jadi bikin komunikasi produktif Kami tak seintens biasanya.

Atthar main kotak-kotak Almond Crispy sampai ke kolong kursi dan meja. Dia coba mengambil, tapi cepat menyerah. Bilanglah Dia "ee..ee..ee.. (minta tolong diambilkan)". Ibu bilang "Coba dulu diambil sendiri Nak. Atthar pasti bisa". Coba lagi deh. Setelah beberapa saat Dia berhasil. "Nah, itu bisa kan. Pintarnya Atthar bisa ambil sendiri mainannya." kata Ibu.

****************************************************************

Dari sekian banyaknya pengalaman ibu-ibu lain yang menyebutkan bahwa laki-laki itu hanya bisa mengerti bahasa yang sederhana dan fokus pada satu hal saja. Jadi, Saya ingin membiasakan diri untuk berkomunikasi secara sederhana pada anak laki-laki Saya. Seperti saat akan pergi, Saya bilang "Atthar, salim dulu." Dia akan suka rela mengulurkan tangannya untuk salim sebelum pergi.

****************************************************************

Atthar kalau sudah gak mau makan (entah sudah kenyang atau karena haus), Dia sering muntahkan makanan. Kalau sudah gini Ibu gak akan kasih makan lagi. "Kenapa makanannya dimuntahin Nak?" "Udah ya makannya." Kalau dimuntahin berarti Atthar dah gak mau makan lagi ya." Pas selesai minum dan Dia minta makan, Ibu tetap gak kasih makan karena kesepakatannya seperti itu, meski Atthar belum bisa ngomong. Ibu ingin menanamkan hal-hal baik. 

****************************************************************

Malam ini Atthar ke rumah Uyutnya dan ketemu sepupu-sepupunya. Nah, terjadi perebutan mainan layaknya anak-anak. Atthar pinjam mobil-mobilan sepupunya dan yang punya gak mau. Juga terjadi perebutan boneka antar sepupu-sepupunya dan salah satunya nangis. Meski semua itu wajar dilakukan anak-anak seusianya karena masih tinggi ego dan baru belajar berbagi. Di sini ibu menyisipkan doa, permintaan kepada Atthar agar mau berbagi. Semoga direkam otak dan jiwanya.



Jumat, 07 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 2

Tidak banyak komunikasi produktif yang dilakukan karena hari ini Saya dan anak sedang melakukan perjalanan dari Kotabaru - Banjarmasin - Surabaya - Yogyakarta.

Pengendalian emosi sangat penting saat perjalanan panjang (12 jam). Rasa lelah, delayed mesti dikesampingkan. Dan selama perjalanan Saya masih bisa mengendalikan emosi. Kalau anak sedang rewel Saya gendong Dia keliling bandara.

****************************************************************

Anak Saya masih kecil, jadi kalimat-kalimat yang Saya sampaikan pun kalimat tunggal, agar Dia mudah menerjemahkannya. Seperti saat transit Dia bermain balok, Saya minta agar menyusun balok-baloknya dan Dia melaksanakan

****************************************************************

Saat bermain, terkadang tak sengaja badannya terbentur dan Dia menyodorkan bagian tubuhnya yang sakit. Seperti tangannya sakit, Dia memberikan tangannya ke Saya dan seperti biasa Saya tanyakan mana yang sakit, lalu Saya tiup2 dan usap2 tangannya. Itu cara Saya berempati.

****************************************************************

Dia suka bermain, termasuk bermain dengan makanannya. Dan Saya tidak menyukainya. Kalau Dia mulai memainkan makanannya, Saya akan memberikan Dia pilihan. Apakah Dia masih mau makan tanpa memainkannya. Atau kalau tetap memainkannya berarti berhenti makan. Saya berusaha konsisten melakukannya. Bagi Saya penting mengajarkan penghargaan terhadap makanan.

****************************************************************

Bosan bermain, Dia akan mulai rewel. Kalau sudah begitu, Saya akan menanyakan berbagai hal yang Dia suka. Menanyakan tentang truk, bus, pesawat dll yang membuat Dia terbengong-bengong.

Itulah sebagian kegiatan Kami berdua di hari kedua tantangan.



Dokumentasi







Kamis, 06 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI KE - 1

Tantangan Komunikasi Produktif Saya Laksanakan dengan Anak Saya yang Berumur 16 Bulan dan Belum Bisa Bicara

Semoga dengan tantangan ini dapat menstimulasi perkembangan bahasanya.

Setiap hari Saya berusaha mengendalikan emosi. Itu hal yang sangat sulit karena Saya gampang terpancing emosi. Sejak belajar parenting, Saya berusaha menjadi orang yang tidak emosian. Tantangan hari pertama, Saya bisa mengendalikan emosi Saya.

Tadi malam, anak Saya membuat berantakan baju yang akan dilipat. Dia keluarkan dari keranjang, lalu dibuat mainan dan berhamburan di seluruh penjuru kamar. Kalau Saya sedang penat, pastilah sudah panas hati ini. Namun, Saya merespon tingkahnya dengan tertawa dan Dia nyengir menampakan 6 giginya. Alhamdulillah.Saya minta tolong kepadanya untuk membawa bajunya agar Saya bisa melipatnya ("Nak, tolong bawakan bajunya ke sini. Iya, ke sini"). Dan Dia dengan senang hati membawakannya untuk dilipat. Belum selesai dilipat, sudah dikasih lagi. Hahaha.

******************************************************************************************************************

Setiap pagi seperti ibu-ibu pada umumnya, Saya merasa seperti dikejar-kejar waktu. Mesti gerak cepat, mesti multitasking, mesti beres semua, se-perfect mungkin. Situasi seperti ini rawan sekali membangunkan emosi Saya. Apalagi kalau direcokin anak. Sebisa mungkin menekan emosi. Kalau tidak setuju dengan perbuatannya, Saya akan langsung menatap Dia. Bukan menatap tajam padanya untuk memberi peringatan agar menghentikan tingkahnya, tapi menatap sayang wajah polosnya. Dengan begitu luluh hati ini dan merasa tidak perlu mempermasalahkan dapur berantakan, nanti kalau sudah senggang bisa dibereskan.

Di sela-sela beraktifitas di dapur, Saya berusaha ikut bermain dengannya. Dia suka sekali bongkar barang. Tadi pagi Dia mau ambil rantang di box. Dia tidak dapat mengambil dan meminta Saya mengambilkan dengan nada putus asa "a...a...a..." (nyebut a nya pendek2 dengan tekanan = meminta pertolongan). Saya tidak langsung mengambilkannya, tapi Saya semangati Dia untuk bisa mengambilnya sendiri. Saya bilang, "Kamu pasti bisa Nak. Tinggal sedikit lagi." Penuh usaha Dia lakukan dan akhirnya berhasil juga. Meringis lagi deh Dia. Tak lupa Saya berikan pujian untuk keberhasilan yang Dia capai (Nah, bisa kan. Bagus sekali, begitu caranya mengambil rantangnya Nak.").

******************************************************************************************************************

Setelah membaca posting-an ig, Saya bertekad akan bercerita tentang keseharian Saya pada anak Saya. Untuk itu, Saya harus menemukan diri anak2 Saya. Ketika kecil Saya suka sekali cerita. Kalau tidak didengarkan ya cerita dengan boneka. Nah, masa ini yang ingin Saya timbulkan. Saat bercerita dengan boneka. Menurut Saya sama dengan cerita ke anak, karena Dia belum sepenuhnya merespon. Saya ceritakan apa yang Saya kerjakan seharian, meski Dia nampak cuek (sambil menyusu), tapi semoga bisa mengembangkan kecerdasannya, terutama bahasanya.

******************************************************************************************************************

Anak Saya ini paling suka lihat truk. Dengar suaranya saja, langsung bangkit dan berlari ke teras. Dengan muka takjubnya Dia akan bilang, "woooooo...wooooooo...wooooo.." (sambil nunjuk2 truknya). Jadi ketika tadi ke tempat pencucian motor di pinggir jalan, Saya ajak Dia untuk mencari truk (agar tidak bosan menunggu). Dia semangat sekali mencari dan ketika ketemu bisa ditebak ekspresinya. ^^ Sambil dijelaskan truk jenis apa, warnanya apa, menirukan suaranya.

******************************************************************************************************************

Setiap Dia akan terlelap, Saya akan mengucapkan doa-doa, permintaan, harapan untuknya (sounding). Saya mendoakan agar Dia menjadi orang sholeh, sehat, cerdas. Saya minta Dia untuk menjadi anak baik, tidak mukul2, jambak2, banting2 barang, gigit2. `Dan memberitahukannya kalau menyusunya sampai umur 2 tahun saja. Semoga terkabul.

Itu tadi penggalan-penggalan komunikasi produktif yang Kami lakukan seharian.


Selasa, 04 September 2018

E C O B R I C K

Membicarakan pengelolaan sampah (plastik), akhir-akhir ini sedang booming yang namanya ECOBRICK. 

Apa sebenarnya ECOBRICK? 

ECOBRICK adalah salah satu upaya mengelola sampah plastik dengan cara memadatkan plastik perca ke dalam botol plastik dengan bantuan tongkat.

Selanjutnya apa?

Setelah cukup padat, maka ECOBRICK bisa dipakai sebagai material pembuatan mebel, seperti kursi dan meja, serta dapat dijadikan bahan bangunan pengganti batu bata. 

Memang kuat? bisa tahan lama?

Kuat dong, kan sudah dipadatkan jadi kuat untuk menahan beban manusia dewasa. Juga tahan lama karena sifat material plastik yang membutuhkan waktu jutaan tahun untuk terurai.

Bagaimana mengetahui padat/tidaknya ECOBRICK?

Dengan ditimbang, jadi setiap ECOBRICK yang diisikan pada botol air mineral ukuran 800 ml, setidaknya berat standarnya harus mencapai 200 gr.

Sebenarnya ECOBRICK adalah solusi dari sebuah masalah yang sudah terlanjur terjadi (permasalahan sampah plastik), yang menjadi isu global karena lamaaaaaanya bahan tersebut terurai dan polusinya bersifat masif. Maka, bijaksananya Kita meminimalkan atau bahkan meniadakan penggunaan plastik.

Berikut adalah pembahasan mengenai ECOBRICK secara lengkap :




Selamat mengaplikasikannya berawal dari diri sendiri.^^