Kategori

Rabu, 24 Oktober 2018

Aliran Rasa *Tantangan 10 hari Level #2 Melatih Kemandirian Anak*

Dalam menjalankan *Tantangan 10 hari Level #2 Melatih Kemandirian Anak*, saya memutuskan untuk melatih kemandirian makan dan minum. Mengapa? Telah saya jabarkan pada saat saya mulai menuliskan laporan tantangan pertama kali.  

Pada tantangan kali ini, saya mencoba konsisten menerapkan kemandirian anak berupa mandiri makan dan minum. Melatih kemandirian makan dan minum telah saya lakukan sebelum ada tantangan ini, sehingga hanya meneruskannya saja. Saya merasa sudah konsisten dalam melatih kemandiriannya dengan meletakkan makanan dan minuman ke tempat makan dan minum anak. Anak memakan dan meminum sendiri apa yang sudah saya siapkan. Belepotan pasti, tapi saya pikir itu lah proses. Beberapa kali setoran, saya ungkapkan kalau saya menyuapi Atthar. Hal itu tentu ada alasan yang menurut saya tidak masalah dan tidak mengganggu dalam melatih kemandirian. Misalnya, menu makanannya yang tidak dia suka, saya menyuapinya agar mau makan meski cuma sedikit. Karena kalau dia makan sendiri, dia akan ambil potongan besar dan tahu itu makanan yang tidak dia suka. Kalau saya suapi dia, saya akan mengambil potongan kecil dan membalutnya dengan makanan lain, sehingga tanpa sadar dia memakannya.

Di samping makan dan minum sendiri, sedikit-sedikit saya sisipkan kemandirian yang lain. Hal itu melihat dari ketertarikannya dan tindakannya dalam meniru ibunya. Seperti saat ada makanan yang berceceran saat dia makan, dia akan ambil sapu untuk menyapunya. Tidak bersih pasti hasilnya, maka setelahnya saya ajarkan menyapu agar hasilnya bersih. Kalau dia bersikeras pegang sapunya, saya arahkan saja, berdua pegang sapunya. Kalau dia menyerahkan sapunya, saya yang sapu dan dia memperhatikan. Kalau minumnya tumpah, saya ambil lap untuk membersihkan. Dia pun meniru dengan mengambil lap. Kalau mau pisang, saya ajarkan mengupasnya. Sekarang kalau mau pisang, dia potek sendiri terus menyuruh ibu mendekati tempat sampah dan nunjuk-nunjuk menyuruh buang kulitnya.

Sangat menyenangkan ketika bisa mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan, bahkan gambar dan video. Senang melihatnya lagi di kemudian hari. Itu yang menjadi motivasi saya menulis laporan. Saya menjadi terbantu dalam menulis diary anak saya yang menjadi keinginan tapi susah dikonsistenkan. Inginnya bisa menuliskan kesehariannya setiap hari, tapi belum sanggup. Dengan menulis tantangan seperti ini, setidaknya sedikit-sedikit ada tulisan kesehariannya.

Kendala dalam menyetorkan laporan, Saya menghindari mengerjakan di malam hari seperti sebelumnya karena beberapa hal, yaitu :

PELUPA

Saya mudah lupa, saya merasa saat-saat ini mudah sekali lupa. Terasa sekali ketika mengerjakan tantangan level 1, saya sudah lupa apa saja yang saya dan anak saya lakukan dan bicarakan, sehingga sulit untuk menuliskan kembali. Oleh karena itu, saya mencoba secepat mungkin menuliskannya sebelum lupa. Saya laporkan ketika melatih kemandirian makan dan minum saat sarapan, sehingga saya tuliskan di saat ada waktu luang di pagi/ siang hari.

CAPEK

Seharian beraktifitas membuat saya merasa lelah. Ketika di rumah sebisa mungkin saya ingin langsung istirahat. Jadi, kalau harus mengerjakan laporan lagi rasa kurang semangat. 

WAKTU BERMAIN DENGAN ANAK

Saya juga masih harus menemani anak bermain. Dan waktunya tidak pasti. Kadang cuma sebentar, kadang lama. Akan mepet waktu untuk menulis laporan. 

NGANTUK

Di malam hari godaan paling besar adalah ngantuk. Ketika menyusui anak, sering kali ketiduran dan ketika bangun sudah lewat jam mengumpulkan laporan. Hal ini terjadi ketika mengumpulkan laporan hari ke-16. Sayang sekali, padahal sebelumnya sudah berusaha untuk tepat waktu dan di saat-saat terakhir harus kebobolan. Sedih banget waktu itu. Tapi ya sudah lah.

Tadi itu dari segi waktu mengerjakan. Kalau dari segi tulisan, mungkin seperti tidak konsisten. Kadang panjang, kadang pendek. Kadang ada dokumentasinya, kadang gak. Hal itu dikarenakan kesibukan setiap harinya berbeda-beda. Kalau inginnya sih yang terperinci karena saya orang yang suka hal-hal yang mendetail. Namun, saya mencoba untuk bersinergi dengan kemampuan saya. Menurunkan standar kesempurnaan menurut saya. Menurunkan di sini bukan berarti lalu asal-asalan mengerjakannya karena bagaimana pun juga ada perang batin ketika melihat tulisan yang selalu kurang. Jadi, saya memilih menulis secara singkat dan mengumpulkan tepat waktu daripada menulis seperti yang saya targetkan tapi harus merapel. Karena ketika merapel itu halangannya lebih berat saya rasa. Tingkat kemalasannya jadi tinggi, belum lagi saya gak tahu besok seperti apa hari saya, bisa jadi lebih padat kegiatan. Malah semakin merembet, sehingga bisa gagal dalam tantangan ini.

Mood menulis tantangan itu seperti huruf U. Di awal bersemangat, di tengah mulai bosan, tapi mendekati akhir ada semangat untuk menyelesaikannya (nanggung, sebentar lagi finish). Jadi, saat merasa bosan, tatap garis finish, tinggal setengah lagi! Itu ujiannya.

Semoga tantangan berikutnya bisa lebih semangat dan konsisten dengan komitmen. Aamiin. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar