Kategori

Rabu, 28 Februari 2018

NHW #6

Due Mar 5, 10:00 AM
NHW#6

*BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL*

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita “Merasa Sibuk”, sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :
Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai. sehingga muncul program 7 to 7)

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

SELAMAT MENGERJAKAN

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/


3 aktivitas yang paling penting

  • Memasak makanan anak (setidaknya dengan memakan makanan yang saya buat dia dapat merasakan kehadiran ibunya setiap saat)
  • Bermain bersama anak (mengganti waktu bermain dengan ibunya di siang hari)
  • Menjaga kesehatan (Tinggal berdua dengan anak, mesti pinter-pinter bagi waktu dan menjaga kesehatan. Ingin menambah jam terbang agar tubuh selalu fit, tidak mudah sakit, dan bahagia)

3 aktivitas yang paling tidak penting

  • Menyuci dan menyeterika baju
  • Bersih-bersih rumah (mengurangi waktu bermain dengan anak karena masih bayi yang sering memasukan segala macam ke mulutnya, jadi masih ngeri kalau dia ikut bersih-bersih)
  • Mainan handphone (dari lihat wa, ig, fb, line, bbm, olshop, youtube)


Waktu Saya selama ini habis untuk kegiatan yang paling penting meski terkadang terganggu dengan kegiatan me time di luar jadwal.

05.00 - 05.30 : Bermain dengan anak (anak baru bangun tidak bisa langsung ditinggal)
05.30 - 06.30 : Memasak makanan anak
06.30 - 07.00 : Bersih-bersih rumah
07.00 - 07.45 : Persiapan berangkat kerja dan anak persiapan berangkat ke rumah yang menjaga dia selama saya kerja
08.00 - 05.30 : Jadwal Rutin (kerja), istirahat siang pulang menemani anak
05.30 - 21.00 : Bermain dengan anak
21.00 - 23.00 : Bersih-bersih rumah sekaligus membersihkan peralatan makan dan minum anak
23.00 - 24.00 : Me Time (minum teh lemon hangat sambil baca-baca)


Nb.
Jadwal dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan anak.

Selama ini sudah tersusun di otak jam sekian mengerjakan apa, selanjutnya apa, dst. Akan tetapi, apa yang digambarkan tidak sesuai dengan kenyataan. Kadang anak bisa diajak kerjasama, tapi lebih sering tidak bisa ditebak.

Kalau untuk bersih-bersih, misal jadwal terlewat karena harus menjaga anak, ya Saya tinggalkan, lanjutkan pekerjaan lain. Itu sebabnya bersih-bersih dibuat 2 kali jadwalnya, selain karena anak membuat berantakan pagi dan sore.

#NHW#6
#Kuliah Matrikulasi Batch#5
#Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal
#Batch5_IPKalSel_100%Lulus

MATERI IIP#6

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6

_Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional_

*IBU MANAJER KELUARGA HANDAL*

*Motivasi Bekerja Ibu*

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja, yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita, kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja di rumah?
a. Apakah masih “ASAL KERJA”, menggugurkan kewajiban saja?
b. Apakah didasari sebuah “KOMPETISI ”, sehingga selalu ingin bersaing dengan keluarga lain?
c. Apakah karena “PANGGILAN HATI”, sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga.
a. Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
b. kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses
c. Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

*Ibu Manajer Keluarga*

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita
“Saya Manager Keluarga”, kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.
a. Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.
b.Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi
c.Buatlah skala prioritas
d.Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

*Menangani Kompleksitas Tantangan*

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

*a. PUT FIRST THINGS FIRST *
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. - Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini - aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

*b.ONE BITE AT A TIME*
Apakah itu one bite at a time? -Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

*c. DELEGATING *
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda.Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya. Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

*Perkembangan Peran*

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih “*SEKEDAR MENJADI IBU*”.

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:
a. Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “manajer keuangan keluarga.
b.Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.
Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.
c.Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.
Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.
Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.
d.Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst
Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.
Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.
Hanya ada satu kata

*BERUBAH atau KALAH*

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN
_Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP, 2015_
_Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016_
_Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009._

Jumat, 23 Februari 2018

NHW#5

_NICE HOMEWORK #5_
_MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH #4_

📝 *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR*📝 (Learning How to Learn)

Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat *Design Pembelajaran* ala kita.

Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan "learning how to learn" dalam membuat NHW #5.

Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.

Bukan hasil sempurna yg kami harapkan, melainkan "proses" anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain.

Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/

Membuat Desain Pembelajaran

Pengerjaan NHW kali ini merupakan hasil menelusuri dunia maya karena sejatinya Saya belum mengerti dengan jelas tugasnya. 

Pengertian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi,

de.sa.in /désain/      
bentuk tidak baku: disain

  1. n kerangka bentuk; rancangan: -- mesin pertanian itu dibuat oleh mahasiswa fakultas teknik    
  2. n motifpolacorak: -- batik Indonesia banyak ditiru di luar negeri    
  3. n Komp tahapan dalam siklus hidup perangkat lunak yang menekankan pada solusi logis, yaitu bagaimana sistem dapat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan 
ajar » pem.bel.a.jar.an     
  • n proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar    

Desain pembelajar 
  • Menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran. 
  • Desain pembelajaran adalah suatu prosedur yang terdiri dari langkah-langkah, dimana langkah-langkah tersebut di dalamnya terdiri dari analisis, merancang, mengembangkan, menerapkan dan menilai hasil belajar (Seels & Richey, AECT 1994). 
  • Morisson, Ross & Kemp (2007) mendefinisikan desain pembelajaran sebagai suatu proses desain yang sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, serta membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai teori-teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian dalam bidang pendidikan, dan metode-metode manajemen.
  • Bagi Reigeluth (1983) Desain pembelajaran adalah kisi-kisi dari penerapan teori belajar dan pembelajaran untuk memfasilitasi proses belajar seseorang.
  • Rothwell danKazanas (1992) merumuskan desain pembelajaran terkait dengan peningkatan mutu kinerja seseorang dan pengaruhnya bagi organisasi.
  • Gagne dkk (1992) mengembangkan konsep desain pembelajaran dengan menyatakan bahwa desain pembelajaran membantu proses belajar seseorang di mana proses belajar itu sendiri memiliki tahapan segera dan jangka panjang.
  • Gentry (1994) desain pembelajaran adalah suatu proses yang merumuskan dan menentukan tujuan pembelajaran, strategi, teknik, dan media agar tujuan umum tercapai
Jadi, menurut pemahaman Saya desain pembelajaran merupakan suatu kerangka untuk membantu Saya dalam belajar ilmu yang sudah Saya pilih pada NHW sebelumnya agar prosesnya berjalan efektif dan efisien.

Ada empat komponen desain pembelajaran, yaitu : peserta didik, tujuan, metode, evaluasi.(Kemp, Morrison dan Ross, 1994)

Jadi, Desain Pembelajaran Saya :
Peserta Didik : Saya sendiri
Tujuan          : Menguasai Ilmu Agama (NHW#1)
Metode         : Offline dan Online
Evaluasi        : Checklist Harian (NHW#2)

Sebagai peserta didik Saya memiliki tantangan baik internal maupun eksternal yang memberi dinamika dalam proses belajar Saya yang tertuang pada NHW#4 sebagai target jangka pendek, menengah, dan panjang dan NHW#3 sebagai tantangan.


Dengan membuat desain pembelajaran, diharapkan proses belajar yang dilakukan menjadi terarah dan berlangsung efektif dan efisien.

#NHW#5
#Kuliah Matrikulasi Batch#5
#BelajarBagaimanaCaranyaBelajar

#Batch5_IPKalSel_100%Lulus

Sumber :
https://sukmanotes.wordpress.com/2012/04/10/desain-pembelajaran/ (23 Februari 2018)
http://www.kumpulanmakalah.com/2016/09/desain-pembelajaran.html (23 Februari 2018)

MATERI IIP#5

Materi Matrikulasi Ibu Profesional sesi #5

📝 *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR* 📝

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,
Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik ( _customized curriculum_) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar.

Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.
*_Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan_*

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.

Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.
Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?

Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal :
1⃣Belajar hal berbeda

2⃣ Cara belajar yang berbeda
3⃣Semangat Belajar yang berbeda

🍀 *Belajar Hal Berbeda*
Apa saja yang perlu di pelajari ?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
🍎Menguatkan Iman,

ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
🍎Menumbuhkan karakter yang baik.
🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

*Cara Belajar Berbeda*
Jika dulu kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.
Misalnya :
👍Ibu jari : How
👆Jari telunjuk : Where
✋Jari tengah : What
✋Jari manis : When
✋Jari kelingking : Who
👐Kedua telapak tangan di buka : Why
👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik
_Apa itu berpikir skeptik ?_
Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

*Semangat Belajar Yang berbeda*
Semangat belajar yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,
*_Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita_*

Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?

• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan
*_Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah_*

Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.

Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

🚫 *_Sebaliknya jangan meratakan lembah_*
yaitu dengan menutupi kekurangannya,
Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah :
1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati
2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya
3⃣Mengetahui passionnya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

*_Good is not enough anymore we have to be different_*

Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orang tua :
👨‍👩‍👧‍👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.
👨‍👩‍👧‍👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
👨‍👩‍👧‍👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak adalah :
1⃣ _Observation_ ( pengamatan)
2⃣ _engage_(terlibat)
3⃣ _watch and listen_ ( lihat dan dengarkan suara anak)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.
Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.

Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :

1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,
Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari
4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.
Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan :
_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_
_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_

Kamis, 15 Februari 2018

NHW#4

_NICE HOMEWORK #4_

*MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FIITRAH*

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?
Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?


  • Sampai hari ini Sya tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini.


b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.


  • Saya sudah belajar konsisten untuk mengisi checklist harian.


c.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Contoh :
Seorang Ibu setiap kali beraktivitas selalu memberikan inspirasi banyak ibu-ibu yang lain. Bidang pelajaran yang paling membuatnya berbinar-binar adalah “Pendidikan Ibu dan Anak”. Lama kelamaan sang ibu ini memahami peran hidupnya di muka bumi ini adalah sebagai inspirator.
Misi Hidup : memberikan inspirasi ke orang lain
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator


  • Saya adalah seorang ibu yang bekerja di ranah publik. Saya nekat membawa anak (waktu itu umur 2,5 bulan) merantau meski tidak ada ART di rumah dan tidak ada keluarga di perantauan, serta baru dimutasi dari Kota Banjarmasin ke Kabupaten Kotabaru. Meski bekerja di ranah publik, Saya tetap memberikan ASI/ ASIP pada anak Saya. Saya tetap memasak sendiri makanannya. Kondisi Saya ini pada awalnya banyak pertentangan tapi lambat laun dapat menjadi permisalan bahwa bekerja di ranah publik anak masih bisa ASI dan masih bisa makan makanan rumah. Saat ini Saya selalu tertarik dengan semua unsur yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak.

          Misi Hidup : Menyemangati orang lain
          Bidang :        Tumbuh Kembang Anak
          Peran :          Motivator

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka Ibu tersebut menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut :
1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

  • 1. Bunda Sayang :     Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak
  • 2. Bunda Cekatan :   Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pengendalian diri
  • 3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu keterampilan 
  • 4. Bunda Shaleha :    Ilmu-ilmu tentang komunikasi publik

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Milestone yang ditetapkan oleh ibu tersebut adalah sbb :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha


  • KM 0 pada usia 28 tahun. Rerata waktu membersamai anak 6 jam yang akan digunakan untuk mencari ilmu,  mempraktekan, dan mengevaluasinya dengan membuat catatan.

          Milestone yang ditetapkan Saya adalah sebagai berikut :
          KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
          KM 1 – KM 2 ( tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
          KM 2 – KM 3 ( tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
          KM 3 – KM 4 ( tahun 4 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Shaleha


f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

  • Sudah Saya masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan


  • Dimulai dari sekarang, berproses sedikit demi sedikit, dan berkesinambungan.


Sang Ibu di contoh di atas adalah perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang kita jalankan bersama saat ini.
Sekarang buatlah sejarah anda sendiri.
Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/



#NHW#4
#Kuliah Matrikulasi Batch#5
#Mendidik dengan Kekuatan Fiitrah
#Batch5_IPKalSel_100%Lulus

MATERI IIP#4

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #4

_Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional_

*MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH*


Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.


Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Misi hidup dan misi keluarga sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“_Just DO It_”, lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

*“PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH”*

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah *MENEMANI*, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara *WAKTU BERSAMA ANAK* dan *WAKTU DENGAN ANAK*. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “_very limited special edition_”

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_
_Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016_

Senin, 12 Februari 2018

NHW#3

NICE HOMEWORK #3

*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH* 

Bunda, setelah kita belajar tentang "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah" maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.

*Pra Nikah*

Bagi anda yang sedang memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang baik. 

a. Tulislah suara hati anda dengan tema “UNTUKMU CALON IMAMKU”
b. Lihatlah diri anda, tuliskan kekuatan potensi yang ada pada diri anda.
c. Lihatlah orangtua dan keluarga anda. Silakan belajar membaca kehendakNya, mengapa anda dilahirkan di tengah-tengah keluarga anda saat ini dengan bekal/senjata potensi diri anda. Misi rahasia hidup apa yang DIA titipkan ke diri kita. Tulis apa yang anda rasakan selama ini.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda?adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa anda dihadirkan di lingkungan ini?

*Nikah*

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

*Orangtua Tunggal (Single Parent)*

Bagi anda yang saat ini sedang mendidik anak-anak anda sendirian tanpa kehadiran pasangan hidup kita.

a. Buatlah “Tanda Penghormatan’, dengan satu dua kalimat tentang sisi baik “ayah dari anak-anak kita” sehingga dia layak dipilih Allah menjadi ayah bagi anak kita, meskipun saat ini kita tidak lagi bersamanya.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak anda, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan dengan tantangan keluarga yang luar biasa seperti ini. Apa misi hidup rahasiaNya sehingga kita diberi ujian tetapi diberikan bekal kekuatan potensi yg kita miliki.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.
Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.


Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/


Jawaban : 

*Nikah*
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

Membuat surat cinta mengingatkan Saya kalau dulu pernah membuat surat cinta (kartu ucapan yang panjang diselipkan pada kado), tapi sudah lupa juga kapan terakhir membuatnya. Kini melalui NHW ini membuat surat cinta lagi. Berhubung tidak banyak waktu luang seperti dulu, maka surat cinta akan Saya tulis di sini saja.


Dear : My R

"Assalamualaikum..

Maafkan surat cintanya dibuat di sini. Aku sendiri merasa kurang puas. Meski kurang berseni. Meski tidak seperti yang dulu-dulu. Meski beda lah pokoknya (pengennya kayak di film korea The Moon That Embraces The Sun yang kertasnya dihias pakai bunga-bunga kering..aahhh tulus banget rasanya). Akan tetapi surat ini ditulis oleh orang yang sama. Oleh hati yang sama. Dan oleh pikiran yang sama. Insya Allah.

Alasan kuat bahwa engkau layak menjadi Ayah bagi anak kita itu ada di masa lalu, masa ini, dan masa yang akan datang. 

Mari kita lihat masa lalu ketika engkau memperjuangkanku (gpp lah sedikit mengingat jaman jahiliyah). Sikap spontan yang mengesankan itu menjadi kenangan-kenangan Kita. Pertama saat awal bersama, langsung beli tiket untuk memberi kado ulang tahun. Nekat tapi manis meski sudah lupa orangnya yang seperti apa..hahaha... Kemudian waktu nenekku meninggal. Harus ketinggalan pesawat karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan. Bingung dengan pikiran pendek beli tiket ke Surabaya. Baru sadar belum pernah ke kota itu sebelumnya. Kamu cuma bilang "tunggu di Surabaya sejam lagi". Sampai bandara di Surabaya, aku menunggu sejam dan taraaaa..bener-bener ada. Senang di saat susah Kamu selalu ada. Yang paling ngenes..Niat mau melamar ditolak 2x sebelum bilang. Akan tetapi, Kamu gak pernah mundur, terus menunggu hingga akhirnya diijinkan meminangku. 

Saat ini, ketika telah menjadi suamiku, Kau tetap memperjuangkanku. Meski berbeda bentuk. Sekarang mempertahankan. Tentu amunisinya adalah kesabaran yang tiada batasnya. Kalau ada batasnya pastilah Engkau akan mundur (semoga tidak pernah terjadi). Aku bersyukur Engkau adalah orang yang sabar. Dari dulu hingga sekarang dan yang akan datang. Ibu memberi wejangan kepadaku untuk selalu bersyukur mempunyai suami yang mengerti sikapku yang buruk ini dengan kesabarannya. Kita mungkin belum bisa bersama setiap hari, tapi aku yakin kesabaran Kita akan berbuah manis. Meski jauh Engkau selalu memikirkan Aku dan Anak A. Selalu kangen. 

Di masa yang akan datang Aku yakin Kamu sudah memiliki rencana dan gambaran akan seperti apa keluarga Kita. Bawalah segala yang baik apa yang ada di masa lalu dan saat ini untuk menjalani masa yang akan datang. 

Sebagai Ayah tentnya sama halnya dengan Aku menjadi Ibu, masih belajar. Mari Kita belajar menjadi orang tua yang baik untuk Anak A. Bila menilik dari masa lalu hngga saat ini, Engkau adalah Ayah yang sabar. Ayah yang selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan anaknya. Ayah yang akan selalu berjuang demi anaknya. Engkau juga orang yang pintar, jadi bisa mengajari Anak A tentang ilmu kehidupan. Karena Anak A laki-laki, cocoklah bermain dengan ayahnya permainan anak laki-laki yang ibunya tidak mengerti. Itu Aku lihat dari caramu bermain dengan Anak A. Engkau, ayah yang bisa ngemong anaknya, meski kadang Aku mengernyitkan dahi karenanya, tapi itulah caramu. Anak A butuh aneka macam stimulus. 

Mungkin masih banyak hal darimu yang luput dari keterbatasan indera ini. Akan tetapi, Aku yakin Engkau adalah Ayah Terbaik Anak A. Mari bersama-sama, saling melengkapi dalam mendukung tumbuh kembang Anak Kita. 

Dikesempatan ini pula Aku meminta maaf atas keburukan diri ini.

Aku Sayang Kamu My R...XOXO..(rasanya udah lama gak bilang..hehe..)

Wasalamualaikum.."

b.Lihatlah anak-anak anda,
tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Anak laki-laki saya umur 9 bulan. Gerak-gerik yang selama ini Saya amati selama ini bisa menjadi potensi kekuatan dirinya. Mungkin yang Saya diskripsikan mirip dengan anak-anak yang lain. Dia anak yang aktif. Sejak bangun tidur langsung kemana-mana dan mainan apa aja. Orangnya tidak bisa diam. Sakitpun tetap aktif. Dia tidak bisa langsung dekat dengan orang asing. Jadi mesti lama dekat dengan Dia baru bisa akrab.
Pun dengan lingkungan baru, harus penyesuaian dulu baru bisa nyaman. Alhamdulillah selama MPASI, anaknya mau makan apa saja yang dimasak ibunya (semoga seterusnya seperti itu). Meski kadang-kadang tidak habis atau makan tidak banyak. Anaknya kalau kata orang-orang sumeh (murah senyum). Dia memang suka senyum dan ketawa meski dengan orang yang baru dikenal. Semoga menjadi orang yang ramah dan supel. Punya badan yang kekar (susah
mendiskripsikan). Tiap orang yang pegang badannya selalu bilang antep (belum nemu Bahasa Indonesianya). Mungkin cocok jadi olahragawan. Dia suka mainan barang-barang dapur. Paling betah mainan kentang dan ubi (mainan yang lain cuma dipegang sesaat lalu bosan). Bisa jadi tertarik dunia memasak. Dia sudah bisa menaruh barang ke wadah yang biasanya cuma mengeluarkan barang dari wadah. Jadi bisalah bongkar pasang. Anaknya suka mencoba meski takut-takut pada
awalnya. Misalnya waktu pertama kali pegang buah rambutan, dengan rasa takut-takut dia tetap ingin pegang. Setelah beberapa saat akhirnya terbiasa dan kegirangan main rambutan. Anaknya pantang menyerah. Misal mainannya gelinding ke kolong, Dia sampai merayap dan menggapai-gapai mainannya.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda
dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

Potensi diri Saya bersumber dari karakter Saya sendiri. Jujur agak bingung menuliskannya karena lebih banyak negatifnya dan susah dihubungkan dengan pertanyaan selanjutnya. Kekuatan potensi diri yang bisa Saya baca adalah Saya bisa jadi pendengar yang baik. Di dalam keluarga ini Saya ingin menjadi pendengar yang baik untuk cerita dan keluh kesahnya suami dan anak. Saya suka mendalami hal-
hal yang Saya sukai. Hal ini bisa disalurkan dengan misal masak menu baru untuk keluarga. Kalau ada waktu Saya akan belajar hal yang baru. Saya ingin belajar hal baru dan menularkan ke keluarga Saya terutama anak Saya untuk bekal hidup Dia. Saya hobi baca buku. Saya ingin hobi Saya menjadi hobi keluarga Saya.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Tantangan hidup di lingkungan tempat tinggal saat ini yang pasti adalah budaya karena Saya perantauan. Saya jadi tahu seperti apa budaya di tempat tinggal saat ini dan Saya juga memberitahu budaya Saya. Hal itu bisa menjadi bahan bicara untuk bersosialisasi. Saya melihat budaya membaca belum tumbuh di lingkungan tempat tinggal Saya saat ini. Di rumah Kami ada buku-buku anak Saya, jadi ketika anak-anak datang ke rumah, mereka bisa baca buku dan Saya lihat Mereka antusias
membaca buku. Cara mengasuh anak dilingkungan Saya tidak sama dengan cara mengasuh anak yang Saya terapkan. Berhubung setiap kerja, anak Saya diasuh tetangga, jadi pola pengasuhannya ikut cara Saya meski ada sedikit-sedikit campurannya dengan seijin Saya dulu. Dan sedikit-sedikit mulai terbuka juga pandangannya.




#NHW#3
#Kuliah Matrikulasi Batch#5
#Membangun Peradaban dari dalam Rumah
#Batch5_IPKalSel_100%Lulus

Rabu, 07 Februari 2018

Materi IIP#3

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #3

_Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional_

*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “*misi spesifiknya*”, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “*peran spesifik keluarga*” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

*PRA NIKAH*

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?

b. Adakah yang membuat anda bahagia?

c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?

d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

*ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK*

*NIKAH*

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

*ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)*

Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

_It Takes a Village to Raise a Child_

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.

Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

SUMBER BACAAN
_Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015_
_Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016_

Minggu, 04 Februari 2018

NICE HOMEWORK (NHW) #2

CHEKLIST INDIKATOR IBU PROFESIONAL

Peran
Indikator
Terlaksana
Keterangan
Ya
Tidak
Individu
Shalat tahajut setiap hari



Shalat dhuha setiap hari



Baca Al Quran setiap hari



Sedekah seminggu sekali



Qurban Setiap Tahun



Membaca setiap hari



Tambah keterampilan sebulan sekali



Mengerjakan sgl sesuatu tepat waktu



Tabungan/investasi tiap bulan 1.5 juta





Istri
Lebih sabar, ngomel maksimal 4 kali sebulan



Melayani suami bila diminta



Mengatur keuangan lebih baik



Lebih banyak makan agar lebih sehat



Mengasuh anak lebih baik lagi





Ibu
Baca parenting setiap hari



Bacain buku setiap hari



Bermain bersama



Masak



Beli buku



Beli mainan edukasi



ASI sampai 2 tahun



Tabungan untuk pendidikan