Bermain bagi anak sejatinya adalah sarana belajarnya. Bagi orang tua terlihat biasa saja. Namun, bagi anak setiap prosesnya adalah luar biasa. Dia mencurahkan seluruh kemampuannya. Maka, saat menemaninya bermain, jadilah "anak-anak" juga. Ya, Kita adalah teman sepermainan. Mesti ikut heboh karena itu bentuk apresiasi kepadanya. Saat saya apresiasi dengan tepukan girang, dia jadi lebih bersemangat. Bila apresiasi sekenanya, dia tampak kecewa.
Insinyur
Dia seperti insinyur kalau lagi nyusun balok atau benda lain. Dia susun, susun, dan susun terus baloknya sampai jatuh dengan muka serius. Kalau balok sudah habis disusun tapi belum jatuh juga, Dia akan jatuhkan baloknya. Hahaha.
Menyusun balok untuk anak seusianya cukup sulit. Bagaimana harus menjaga keseimbangan agar tak runtuh. Karena dia belum mengerti menyusun secara presisi lurus ke atas. Yang Dia inginkan hanya menyusunnya setinggi mungkin. Kegagalan demi kegagalan Dia lalui dengan riang. Nyusun satu dua jatuh, satu dua tiga jatuh, dan seterusnya. Terus meningkatkan kemampuannya nyusun balok.
Tak hanya nyusun balok, nyusun benda-benda lain juga. Saat Dia main sendiri dan Saya di Dapur, tetiba Dia menarik Saya ke tempat Dia main. Dan taraaa... Dia menunjukkan beberapa benda yang disusun. Di atas truk ada susunan penggaris dan bolpen di atasnya, lalu ada susunan balok, ada juga susunan puzzle playmat. Kami mengekspresikan rasa senang dengan tepuk tangan, sama halnya dengan menyelesaikan pekerjaan. Maka, bertepuktanganlah Kami dengan penuh kekaguman. Dan diikuti pertanyaan-pertanyaan seperti siapa yang menyusun? Bagaimana caranya? dll. Itu bentuk apresiasi Saya.
Terkadang, Saya menghayati permainannya. Ketika Dia belum selesai menyusun balok dan runtuh duluan, ekspresinya tertawa. Disusun lagi dan runtuh, masih tertawa. Seperti itu seterusnya sampai tersusun semua. Di situ Saya belajar kegagalan. Kalau gagal semestinya seperti Dia, disenyumin aja. Tak perlu berlarut2. Bukankah Kita hanya bisa berproses? Hasil sudah ada yang mengatur. Kalau Saya merasa gagal, semestinya langsung bakit dan mencoba lagi, tetap dengan semangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar