Komunikasi dengan Pasangan
Komunikasi itu bisa menyampaikan pesan dan pesan dapat diterima, sehingga goals-nya understanding. Dengan mengusung semangat Institut Ibu Profesinal "bersungguh-sungguh di dalam, maka akan keluar dengan kesungguhan", maka pondasi komunikasi adalah komunikasi dengan pasangan. Jadi, bila ada masalah dalam berkomunikasi, maka benahi dulu komunikasi dalam keluarga.Apabila terjadi masalah dalam berkomunikasi dengan pasangan, maka akan menghalangi kesatuan persepsi terhadap value, visi, dan misi keluarga. Maka, perlu adanya perbaikan dalam berkomunikasi dengan pasangan. Perbaikan komunikasi dengan pasangan dapat dilakukan dengan panduan Mang EEF (Efisien, Efektif, dan Produktif). Penjabaran Mang EEF adalah sebagai berikut :
Efisiensi berkaitan dengan waktu dan tenaga. Lakukan komunikasi yang hemat, tak membuang waktu dan tenaga. Sehingga diperlukan teknik "gigit lidah". Pintar dalam mengendalikan lisan. Efektif berkaitan dengan hasil. Agar mendapatkan hasil yang diinginkan, maka bahasa dan cara penyampaian pesan dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan, produktif berkaitan dengan kontinuitas. Komunikasi itu tak terbatas waktu, akan terus berlanjut. Jadi, ketika komunikasi mengalami kendala, maka terus perbaiki cara berkomunikasinya.
Tips Komunikasi dengan Pasangan Ala Kakak Yani
1. Clear and Clarify
Cara berkomunikasi secara Clear dapat diciptakan dengan metode KISS (Keep Information Short and Simple). Sedangkan, Clarify berarti berkomunikasilah dengan tak menggunakan asumsi. Asumsi dekat hubungannya dengan su'udzon.
2. Empati
Jadilah pendengar yang baik.
3. Fleksibel
Fleksibel berkaitan dengan situasi dan kondisi. Berkomunikasilah dengan memperhatikan situasi dan kondisi pasangan. Akan lebih baik bila meluangkan waktu khusus untuk berbicara dan bepergian berdua.
4. Body language,
Verbal hanya memegang peranan 7% dalam komunikasi. Sedangkan, 93% dipengaruhi oleh non verbal yaitu body language dan notasi. Maka, berkomunikasilah dengan gestur yang baik, seperti menatap pasangan, memasang muka yang enak dilihat, dll.
5. Hindari evaluasi, tapi perbanyak apresiasi
6. 3 Mantra Ajaib (Terimakasih, Minta Tolong, Mohon Maaf )
Kuncinya adalah fokus solusi, mengatakan apa yang diinginkan, dan selalu fokus pada masa depan (tidak mengungkit kejadian yang lalu).
7. Lakukan
Pengalaman Pribadi Komunikasi dengan Pasangan
Komunikasi ringan bisa kapan saja diungkapkan. Akan tetapi, komunikasi yang genting, dalam artian membutuhkan perhatian yang serius berkaitan dengan sesuatu hal, mestinya perlu diungkapkan dengan hati-hati. Hal itu agar terjadi win-win solution terhadap suatu masalah. Kedua belah pihak sepakat dengan penuh keikhlasan.
Saat ini saya belajar mengendalikan diri dalam berkomunikasi, agar tidak timbul lagi diri saya yang suka ngambek. Karena kami LDM, maka waktu untuk komunikasi serius secara langsung tak banyak pilihan waktu. Saya ambil waktu komunikasi saat kami lega. Saat suami baru datang, saya akan menyilahkan beliau beristirahat dan menawarkan minuman. Saya akan menunggu sampai suami beranjak dengan kegiatan lain, berarti sudah cukup istirahatnya. Bisa langsung minta waktu sebentar. Terkadang dilakukan sambil jalan, sambil makan, sambil-sambil kegiatan santai lainnya. Sekali lagi, hal itu karena terbatasnya waktu.
Yang paling penting, saya mengontrol emosi. Karena saya lebih emosian daripada suami. Jadi, apa yang ingin disampaikan ditahan lebih lama di hati sampai bisa saya ungkapkan dengan kontrol, tak lepas begitu saja. Sesantai-santainya suami menghadapi emosi saya, tapi beliau juga punya perasaan dan harga diri yang perlu dijaga. Mengenai harga diri, saya pernah baca kalau suami juga ingin mempertahankan harga dirinya sebagai pemimpin. Itu yang membuat saya sedikit demi sedikit mengurangi dominasi saya di dalam keluarga. Tak seenaknya mengatur keluarga menurut versi saya, tapi mestinya versi kami. Meski saya sering berbagi ilmu parenting kepada beliau, tapi tak ingin kalau beliau menuruti begitu saja. Ingin dijadikan referensi dalam berdiskusi untuk membuat versi keluarga kami.
Pengurangan dominasi ini juga terjadi saat mengambil keputusan. Meski kadang tak sreg dengan keputusan suami, saya mencoba menjalani. Karena pengambil keputusan tetap suami dan saya berperan dalam memberikan masukan. Ketika keputusan dijalankan dan hasil tak sesuai dengan harapan, maka kami berkomunikasi lagi, berdiskusi lagi, dan keputusan tetap di tangan suami.
#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi3
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar