Kategori

Kamis, 30 Januari 2020

KANGEN KULINER MAGELANG

Magelang

Kota transit jalur DIY - Semarang.
Kota yang berada di lembah panca arga.
Kota yang sejuk (mulai panas) yang airnya sedingin es.
Kota lahir, kota kenangan.
Cinta banget sama kota ini.

Kalau mau pulkam dipikiran otomatis bikin daftar makanan yang ingin dimakan.
Makanan yang dikangenin saat di perantauan.
Ada yang gak pernah nemu, ada yang rasanya beda.
Beberapa makanan yang berhasil disantap.

Mie Tek-Tek



Mie goreng dimasak di atas angklo dengan bunyi berisik sutil beradu dengan wajan (tek-tek).
Mie Tek-Tek paling enak menurutku yang dijual di Jagoan 1.
Namanya Mie Pak Ndut, bisa dipesan lewat aplikasi ol.
Biasanya langsung ke sana, beruntung kalau antrinya gak banyak dan gak habis bakminya (warga magelang hobi makan bakmi malam-malam).
Ini favorit banget.
Sejak tinggal di daerah itu sampai sekarang udah pindah tetap langganan.
Orang-orang yang aku kenalin sama mie tek-tek ini puas dengan rasanya.
Dan nagih.

Buntil



Dedaunan kepal masak santan bertabur rawit glundungan.
Suka rasa gurih pedasnya.
Buntil godhong lumbu lembut lumer di mulut.
Buntil daun pepaya kres-kres saat digigit, agak pahit sedikit.
Tapi, gak suka sama isinya (kelapa parut).
Jadi, kalau makan disingkirkan bagian tengahnya.
Biasanya aku gado aja, gak pakai nasi.
Buat cemilan. Hehe.
Di sini (Banjarmasin, Kotabaru, dan Balikpapan) belum pernah nemu.

Oseng Genjer



Ada di sini (Kotabaru), tapi kuncupnya yang sering saya lihat.
Kalau di kampung, daunnya aja yang dijual.
Menurutku rasanya jadi berbeda.
Lebih lembut daunnya kalau dimasak.
Ini juga sering jadi cemilan.
Makannya pakai sumpit kayak makan mi.

Bakso



Dimana-mana banyak orang jual bakso.
Sudah seperti makanan nasional.
Yang dikangenin itu bakso dengan sawi hijau yang banyak, ada tetelannya, ada pothelnya, ada keripik baksonya, dan bihunnya yang berwarna putih.
Di Kotabaru gak banyak pilihan, di Balikpapan banyak pilihan, tapi porsinya kebanyakan buat saya.

Ronde



Ronde yang saya suka itu tak banyak campurannya.
Cuma air jahe, ronde, kacang, sama agar.
Sudah itu saja cukup.
Pernah nyicip yang pakai kental mani, rasanya terlalu manis buat saya.
Pernah juga yang terlalu banyak campuran seperti bickuit, emping, dll, jadi berat rasanya.
Selera saya yang gini aja, simpel dan ringat, cukup bikin badan anget didinginnya malam.

Senerek



Di jogja aja susah nyari senerek.
Apalagi di sini ya (luar pulau).
Makanan khas Magelang yang saya suka.
Konon, hasil percampuran antara makanan lokal dan londo (dulu Magelang tempat ngadem londo-londo Jogja, semacam vilanya mereka, kayak di puncak lah).
Tahun 90-an hampir semua tempat jual sayur matang, jual senerek.
Kaget waktu teman-teman luar kota mengidentikan kacang merah sebagai sesuatu yang manis (es kacang merah).
Sedang saya, sejak kecil mengidentikan kacang merah dengan sesuatu yang gurih (sop).
Ngangenin kesegarannya.
Yang terkenal dan dulu sering diajak makan senerek itu di Sop Senerek Bu Atmo.
Saya masih ingat betul, dulu parkirannya masih tanah dinaungi pohon ketela besar (tahunan).
Yang saya pikir daun singkongnya metik di situ.
Pas saya sudah sekolah sering seangkot sama pegawainya yang ternyata beli daun singkong di pasar. Hahaha...
Kalau kesini makan senerek dengan minum es beras kencur (ibu dulu kos deket sini dan sering beli es beras kencurnya).
Isian dagingnya bisa milih, bisa sapi, bisa ayam.
Yang mau menu lain juga ada, nasi rames misal.

Pekmpek



Ini pekmpek keliling di kampung saya.
Suka banget, gak terlalu amis.
Kalau bibi saya bilangnya rujak mi.
Sudah jarang ditemui.
Pas kebetulan lewat depan rumah, langsung beli.
Meski tak masuk daftar sebelumnya, tapi berhasil bernostalgia.
Gurih, asem, manis, dengan seuprit rasa pedas.

Mi instan


Mi instan masuk list? Kan ada dimana-mana.
Ya, memang dijual dimana-mana. Menu wajib anak kos.
Bedanya, mi instan yang dibuat sama ibu.
Gak tau kenapa tiap-tiap orang bikin mi instan itu rasanya bisa beda-beda.
Mi instan buatan sendiri rasanya beda dengan buatan ibu, pun beda dengan buatan mas bro-nya mami. Hahahaha....
Biasanya kalau sarapan sering ditanya sama ibu, mau makan apa. Jawabnya mi godhog.

Gudeg



Gudeg itu memang makanan khas Jogja.
Tapi, di Magelang juga ada dan beda rasanya.
Rasa gudeg Magelang itu gurih, gak manis.
Dulu gak kepikiran bakal kangen sama gudeg, sama kreceknya, sama ayam suwirnya.
Setelah merantau, jadilah selalu ada rasa pengen makan.
Gak di Jogja, gak di Magelang tetep makan.
Kadang malah keduanya, ya karena beda rasa.
Dan sekarang malah minta dibawain gudeg kalengan. Hahaha...
Pernah nyicip yang disini, tak sesuai ekspektasi.


Kalau dituruti semua, padat ya jadwal kulineran, mana libur cuma bentar.

Oya, maafkan foto yang ala kadarnya. Setidaknya ada gambaran kan ya.

^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar