Kategori

Jumat, 01 Februari 2019

Aliran Rasa Tantangan 10 Hari Level 5 "Menstimulasi Anak Suka Membaca"

M E M B A C A

Menurut Saya, membaca merupakan hal yang penting. Banyak manfaat yang didapat dari membaca. Membaca berpengaruh pada alur berbicara dan menulis seseorang. Semakin banyak bahan bacaan, semakin beragam kosakatanya. Hal itu yang memengaruhi gaya bicara dan tulisan seseorang. 

Gak Nyambung?
 
Pernahkah menemui orang yang sedang bergurau dan orang yang diajak bergurau tidak mengerti? Hal itu dapat dipengaruhi dengan latar belakang masing-masing, dalam artian tingkat kesukaan membacanya berbeda. Membaca di sini untuk topik yang sedang dijadikan bahan gurauan. Yang bergurau telah banyak membaca tentang topik, sehingga dapat melontarkan gurauan dengan memakai bahasa kiasan, tidak lugas. Sedangkan yang diajak bergurau hanya mengetahui kulit luar tentang bahan gurauan, sehingga membutuhkan penerjemah untuk bisa mengerti.

Apa Manfaat Membaca Bagi Anak?

Untuk anak, penting sekali kegiatan membaca ini, terutama membaca dengan orang tua. Ada efek jangka pendek, menengah, dan panjangnya. Efek jangka pendeknya adalah hal yang dapat dirasakan sekarang juga. Seperti, kedekatan anak dan orang tuanya. Lihatlah, dengan terbiasa membaca bersama, anak langsung tahu kapan waktunya meski belum mengerti fungsi jam dinding. Anak langsung memilih bacaannya dan menyodorkan pada orang tuanya tepat di jam membaca bersama. Hanya dalam waktu singkat anak mencintai kegiatan membaca. Lebih mudah menstimulasi anak-anak suka membaca daripada orang tua, maka mumpung masih anak-anak terus stimulasi, hanya butuh waktu sebentar saja. Memang tak ada kata terlambat dalam belajar, tapi kalau bisa dipermudah, mengapa mempersulit diri. Daripada saat usia sekolah ibu-ibu masih ngomel sampai berbusa untuk membuat anak belajar, kenapa tidak meluangkan waktu saat ini dan santai kemudian.

Jangka menengahnya, anak-anak akan kaya perbendaharaan kata, sehingga dia dapat mendiskripsikan perasaannya dengan detil, sehingga orang tua mudah mengerti apa yang dirasakan anaknya. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi label anak susah diatur, anak nakal, anak bandel, dll. 

Lebih jauh lagi, jangka panjangnya anak menjadi sebuah paket komplit. Anak menjadi pendengar yang baik, pembicara yang baik, dan penulis yang baik. Karena dalam kegiatan membaca terdapat kegiatan mendengarkan. Agar mengerti cerita yang sedang dibacakan, anak mesti menahan diri dengan menjadi pendengar yang baik. Untuk anak yang lebih besar dapat diberikan pertanyaan-pertanyaan terkait cerita. Hal itu terus dibiasakan, anak akan otomatis bisa menjadi pendengar yang baik. Tidak seenaknya memotong pembicaraan orang lain.

Pembicara yang baik tentu hasil dari berpikir terlabih dahulu sebelum bicara, tidak asal bicara. Banyak membaca memberikan wawasan yang luas dengan sudut pandang yang beragam. Membuat otak semakin tajam menganalisis dan dapat memproduksi kata-kata berkualitas melalui lisan. Sehingga, mengurangi apa yang disebut dengan keceplosan, menyinggung perasaan orang, dll.

Menulis bukan perkara yang mudah, perlu latihan yang berkesinambungan. Sama halnya dengan menggambar, semakin sering menggambar, hasilnya akan semakin halus. Semakin sering menulis, maka hasilnya semakin enak tulisan itu dibaca. Ukurannya adalah ketika pembaca suka membaca tulisan itu tak peduli sesingkat atau sepanjang apapun tulisan itu. Untuk mendapat tulisan seperti itu, seseorang harus membaca. Kenapa? Karena semakin sering membaca, semakin mengalir apa yang kita tulis. Tak kehabisan kata untuk mengungkapkan gagasan.

Jadi, semua tahap perkembangan yang orang tua inginkan dari anaknya berawal dari membaca, maka lakukan kegiatan membaca bersama sesering mungkin. Bersama, agar kita tahu apa bacaan anak, agar kita dapat mengarahkan, agar kita dapat mengontrol, dan terpenting agar kita ada disetiap tahapan perkembangannya.

Hasil Pengamatan

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan ketika melihat anak-anak bermain, sebenarnya anak-anak itu pada dasarnya suka pada kegiatan membaca. Pengalaman pribadi ketika mengalami keterbatasan literasi anak, saya tetap suka melihat ibu saya membaca koran. Setelah koran itu nganggur, saya membacanya dan suka mengisi TTS. Dan kemudian ketika punya uang yang cukup untuk membeli koran tipis, saya pun pergi ke rumah tetangga (loper koran). Ketika tau saya yang ingin baca koran, beliau menyarankan untuk membeli majalah bobo saja. Uang tak cukup, tapi rasa ingin membaca itu membuat saya berkeliling rumah mengumpulkan recehan. Berdua, dengan sepupu saya, akhirnya dapat membeli majalah bobo pertama. Itu luar biasa rasanya dan suka sekali membacanya. Sehingga, tiap minggunya selalu berhemat, menyisihkan uang untuk membeli bacaan anak-anak sendiri.

Pun saya lihat teman-teman anak saya kalau main ke rumah, mereka senang memegang buku-buku yang ada. Yang belum bisa baca suka membuka-buka dan melihat gambarnya. yang sudah bisa baca, meski terbata terus membaca ceritanya. Saya pikir anak-anak pada dasarnya memang sudah suka membaca, cuma kita sebagai orang tua terkadang tidak memberi fasilitas untuk mendukungnya. Tak punya uang, saya rasa bukan suatu alasan karena saat ini banyak sekali yang menawarkan buku-buku gratis pinjam, seperti perpustakaan, rumah pintar, dll. Terkadang orang tua lebih memilih memberikan gadget daripada literasi anak. Kebiasaan ini yang pada akhirnya membunuh kegemaran membaca anak secara perlahan-lahan. Hingga akhirnya saat anak diwajibkan banyak membaca di usia sekolah, si anak pun tak berselera. Dan kalau sudah begini orang tau putus asa dan melabeli anaknya macam-macam. Semakin lama, tak dapat dipungkiri permasalahan akan semakin komplek. Semoga tak terjadi pada keluarga kita. Aamiin. Mumpung belum rumit situasinya, maka mari meng-update dan meng-upgrade diri bersama keluarga dengan berawal dari kebiasaan membaca.
 
Mari Perkaya Literasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar