Memahami Gaya Belajar Anak Hari Ke - 1
Dengan memahami gaya belajar anak, diharapkan anak dapat menyerap ilmu secara optimal. Berbeda dengan di sekolah pada umumnya yang menseragamkan gaya belajar pada siswanya, maka di rumah orang tua dapat membantu memudahkan anak dalam belajar dengan memahami gaya belajar masing-masing anak. Sehingga, tidak ada lagi labeling (bai negatif maupun positif) pada seorang anak. Semua anak istimewa, maka tentulah berbeda-beda dalam menangkap sesuatu yang sama.
Pada materi level 4 mengenai memahami gaya belajar ini, terdapat 3 modalitas belajar anak, yaitu :
1. Visual
Senang dengan gambar-gambar, belajar dengan membuat sketsa, grafik, mencatat kembali, menempel post it, memberi highlight pada buku, dll.
2. Auditory
Segala yang berhubungan dengan audio. Semisal, belajar dengan melantunkan yang sedang dipelajari, belajar dengan mendengarkan, tertarik dengan bebunyian, membaca dengan dibaca keras-keras, dll.
Mempraktekan langsung apa yang sedang dipelajari. Belajar dengan observasi lingkungan, belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan badan, belajar sambil bermain, dll.
Setiap anak dapat memiliki 1 atau lebih dari ketiga gaya belajar tersebut. Bisa untuk mempelajari sesuatu, senang dengan gaya bahasa visual, tapi untuk sesuatu yang laing senang dengan gaya kinestetik. Maka, tiap pembimbing harus jeli manangkap sinar mata si anak dan bersabar untuk menemukan gaya belajar mana yang cocok. Seperti pada film Bollywood "Taare Zameen Par", ternyata si anak tidak bodoh, dia hanya berbeda dari kebanyakan anak dalam gaya belajar.
Nah, karena nak masih 1 tahun 7 bulan, maka saya mesti menstimulasi dengan berbagai macam cara dan mengamati dengan seksama gaya belajar mana yang dia merasa nyaman dan cepat menyerap pelajarannya. Tantangannya adalah dia belum bisa diajak berdialog dengan jelas seperti anak yang sudah besar, dapat langsung protes kalau dia tidak suka atau tidak nyaman dengan gaya belajar yang ditentukan. Dan sebaliknya dapat langsung berpendapat seperti apa gaya belajarnya. Tantangan berikutnya, suatu pelajaran mesti diulang sampai tak terhingga dengan akhir membentuk kebiasaan baik. Perlu kesabaran untuk itu.
Oya, meski anak telah nyaman dengan suatu gaya belajar, kita dapat mengenalkan gaya belajar lainnya, agar si anak kaya wawasan dan dapat cepat beradaptasi dengan lingkungan dalam belajar. Contoh, ketika anak suka belajar dengan situasi yang tenang, dengan kita mengenalkan gaya belajar yang ribut, diharapkan dia dapat belajar dengan baik dalam situasi apapun.
****
Hari pertama tantangan ini, saya mengambil kegiatan menyayangi kucing. Ya, akhir-akhir ini anak saya sering gemes dengan kucing (yang sedang sakit kakinya, sehingga pasrah dianiaya anak saya). Ketika sedang main dengan kucing, dia tarik-tarik, pukul-pukul si kucing. Saya tentu memperingatkan agar tidak bermain dengan kasar. Mulai lah saya menggunakan gaya belajar auditory. Untuk kasus kucing ini, sepertinya tidak mempan dengan gaya itu. Kadang dia berhenti sejenak, tapi kemudian kembali bertingkah sama, terkadang malah tidak dihiarukan.
Berlanjut dengan gaya visual, saya memperagakan bagaimana menyayangi binatang. Dengan memberi kucing makan, dan hanya menonton saat kucing makan (tidak mengganggu), dan mengelus badannya (tanpa mencekeram). Lalu saya minta dia mengulangi apa yang saya lakuakan. Dia mau melakukan, tapi masih kasar.
Selanjutnya, saya bimbing tangannya untuk mengelus dengan lembut kucing. Ditimpali dengan menerangkan apa yang kucing rasakan dan seperti apa seharusnya bersikap dengan kucin, dll. Saya menggunakan gaya belajar kinestetik. Dan terkadang mencampurnya. Terus berulang.
dan dalam kasus ini, dia lebih menerima dengan kinestetik. Saya pikir untuk anak sekecil dia perlu distimulus dengan bertahap (auditory > visual > kinestetik). Sehingga dia benar-benar paham apa yang kita maksud bila kejadian yang sama terjadi. Dia langsung mengerti ketika menggunakan auditory (paling singkat waktunya dalam memberikan intruksi).
#harike1
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar